Jumlah sayuran yang tersisa pun tidak menentu. Terkadang hanya sedikit, tetapi pada hari tertentu hampir separuh dagangannya tidak terjual. Sayuran tersebut kemudian dibawa pulang untuk dimasak, dijual dengan harga lebih murah, atau dibagikan kepada tetangga.
Rati pernah menambah persediaan karena cuaca pagi terlihat cerah. Namun, sekitar pukul 10.00 WIB, hujan turun dan berlangsung hingga sore. Pembeli berkurang, sementara uang untuk membeli sayuran sudah telanjur dikeluarkan. Dalam kondisi terburuk, ia mengaku pernah mengalami kerugian sekitar Rp200 ribu dalam sehari.
Rati tidak mengetahui secara pasti penyebab semakin sepinya pembeli. Ia menduga kondisi ekonomi masyarakat turut memengaruhi daya beli. Selain itu, lokasi berjualan juga dinilainya berpengaruh terhadap jumlah orang yang datang.
“Saya saja yang buka lapak di depan gerbang masuk menuju los ikan sudah sepi, apalagi yang di dalam los,” ujarnya.
Berjualan di Lapak Tak Resmi
Di tengah kondisi pasar yang sepi, Rati juga harus menghadapi ketidakpastian tempat berjualan. Lapak yang digunakannya bukan tempat resmi yang disewa. Ketika Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) datang melakukan penertiban, ia mengaku harus meninggalkan lokasi tersebut.
Setelah petugas pergi, Rati kembali menyusun sayurannya satu per satu dan melanjutkan berjualan. Menurut keterangannya, ada sekitar 10 pedagang sayur lain yang berjualan di sekitar lokasi tersebut.
Rati memahami bahwa tempat yang digunakannya bukan lapak resmi. Namun, menyewa tempat berjualan belum sanggup ia lakukan karena keterbatasan ekonomi.
“Mau bagaimana lagi, kalau untuk menyewa tempat saya tidak punya uang. Jangankan itu, untuk makan saja susah,” katanya.


















