Di luar modal membeli sayuran, Rati menyebut harus mengeluarkan hampir Rp50 ribu setiap hari untuk berbagai kebutuhan selama berdagang. Ketika hasil penjualan tidak mencukupi, ia terpaksa berutang agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
“Cukup enggak cukup terpaksa harus dicukup-cukupkan. Kalau tidak, mau bergantung sama siapa lagi,” ujarnya.
Tak Bisa Berhenti karena Suami Butuh Pengobatan
Pada usia 60 tahun, Rati mengaku pernah berpikir untuk berhenti berjualan. Setiap hari ia harus memulai aktivitas sejak sebelum matahari terbit, sementara pendapatan yang diperoleh tidak menentu. Namun, berhenti berdagang bukan pilihan mudah. Penghasilan dari menjual sayuran menjadi salah satu tumpuan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus biaya pengobatan suaminya yang sedang sakit.
“Pernah, tapi kalau berhenti mau makan pakai apa, dan suami saya berobat pakai apa,” katanya.
Ketika ditanya sampai kapan masih sanggup bertahan, Rati mengakui bahwa kondisi tersebut semakin berat. Meski begitu, ia merasa tidak memiliki banyak pilihan selama kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi.
“Rasanya sudah tidak kuat, tapi mau bagaimana lagi,” ujarnya.
Ketakutan terbesarnya adalah ketika suatu hari ia tidak lagi mampu memperoleh uang untuk membeli makanan dan membiayai pengobatan suaminya. Karena itu, ia berharap pemerintah tidak hanya melakukan penataan dan penertiban Pasar Raya, tetapi juga menghadirkan solusi bagi pedagang kecil yang menggantungkan hidup di kawasan tersebut.
“Harapan saya, pemerintah tolong juga bantu kami, perhatikan kami, dan berikan kami solusi agar bisa berjualan dengan tenang dan aman. Tolong jangan abai dan menutup mata untuk masyarakat seperti kami,” katanya.
Bagi Rati, persoalan tempat berjualan tidak berhenti pada status lapak resmi atau tidak resmi. Di balik sayuran yang disusunnya setiap pagi, ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi dan pengobatan suami yang harus terus diusahakan.
Penertiban mungkin membuatnya meninggalkan tempat berjualan untuk sementara. Namun, kebutuhan hidup tetap berjalan. Itulah yang membuat Rati kembali ke pasar, menyusun dagangannya, lalu menunggu pembeli datang.




















