Kabarminang — Seorang santri Pondok Pesantren Darul Mursyidin di Nagari Kapa, Kecamatan Luhak Nan Duo, Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar), dikeroyok oleh adik kelasnya di dekat sekolah tersebut pada Senin (27/4/2026) malam.
Seorang pengajar di Pondok Pesantren Darul Mursyidin tersebut yang namanya tidak mau disebutkan bahwa korban pengeroyokan tersebut merupakan santri kelas 11 aliyah, berusia 18 tahun. Sementara itu, katanya, dua dari para pengeroyokan merupakan lima santri aktif kelas 9 sanawiah, berusia 14—15 tahun, tiga orang lainnya mantan santri, yang juga berusia 14—15 tahun, serta seorang remaja yang bukan santri, berusia sekitar 17—18 tahun.
“Tiga mantan santri itu dulu bersekolah di pesantren ini. Mereka dikeluarkan pada kelas 9 sehari menjelang ujian semester berakhir karena melakukan pelanggaran beberapa kali. Salah satu mantan santri itu membawa kakaknya untuk mengeroyok korban,” ujar pengajar tersebut kepada Kabarminang.com pada Kamis (30/4/2026).
Pengajar tersebut mengungkapkan bahwa menurut cerita santri pengeroyok, korban selama ini diduga berbuat sewenang-wenang kepada para pengeroyok yang merupakan adik kelasnya. Sejak junior kelas 7 sanawiah, korban sering memalak adik kelasnya itu dan sering memukul kepala adik kelasnya itu. Karena itu, para pengeroyok dendam kepada korban.
Pada Senin (27/4/2026) malam, kata pengajar itu, korban kembali ke pesantren. Korban bercerita kepada kakak kelasnya bahwa ada sejumlah santri yang mengintainya. Kakak kelasnya memintanya tidak keluar lingkungan pesantren. Lalu, ia mendapatkan informasi bahwa para santri tersebut mau berdamai dengannya. Karena itu, setelah salat Isya, di atas pukul 21.00 WIB, ia keluar dari pagar pesantren untuk menemui para santri yang mengintainya.
Kedua pihak tersebut bertemu di dekat sungai, sekitar 200 meter dari pagar pesantren. Setiba di sana, korban meminta maaf kepada lima santri yang merupakan adik kelasnya atas perbuatannya selama ini kepada orang-orang tersebut. Saat meminta maaf itu korban dikeroyok.
Dalam video yang beredar di media sosial dan WhatsApp, korban dipukul, ditendang, dan diinjak di bagian kepala, dada, punggung, dan bagian tubuh lain. Akibat dikeroyok, korban terjatuh ke tanah dan menangis. Namun, para pengeroyok terus menghajarnya.
Setelah mengeroyok korban, korban dan dua santri pengeroyok kembali ke asrama pesantren, sedangkan pengeroyok lainnya pergi. Akibat pengeroyokan itu, kepala korban memar.















