Pihaknya juga menuntut adanya peningkatan upah yang layak serta jaminan keselamatan dan kesehatan bagi para buruh di seluruh Sumbar tanpa terkecuali.
Mengenai pembangunan daerah, Shabbarin Syakur menegaskan bahwa pemerintah harus memberikan kepastian terkait proyek strategis nasional maupun daerah.
“Masyarakat butuh keadilan infrastruktur, terutama pengawalan pembangunan flyover Sitinjau Lauik dan perbaikan fasilitas umum pascabencana yang selama ini terkesan lambat,” tuturnya.
Kahfi Harahap mengingatkan pihak eksekutif untuk tidak memandang remeh dokumen tuntutan yang mereka serahkan dalam aksi kali ini. Ia menyatakan bahwa mahasiswa tidak ingin tuntutan mereka hanya berakhir sebagai dokumen formalitas atau “bungkus nasi” tanpa ada langkah konkret dari pemerintah provinsi.
Aksi yang diperkirakan berlangsung hingga pukul 18.00 WIB itu diwarnai dengan negosiasi antara perwakilan mahasiswa dan Pemprov Sumbar. Para demonstran menuntut adanya kesepakatan tertulis mengenai jangka waktu tindak lanjut dari setiap poin tuntutan yang telah disampaikan secara luring tersebut.
Shabbarin Syakur menyatakan bahwa mahasiswa akan terus mengawal janji pemerintah hingga benar-benar terealisasi di lapangan.
“Kami butuh kejelasan dan tanggapan nyata, jika tidak ada perubahan dalam waktu dekat, kami pastikan akan ada gelombang massa yang lebih besar lagi,” ucapnya.
















