Kaum laki-laki banyak terlibat dalam kepanitiaan, persiapan teknis hingga memasak gulai kambing yang menjadi bagian dari hidangan Maulid Nabi.
Sementara kaum perempuan menyiapkan makanan dan bahan yang akan dibawa ke masjid. Makanan tersebut dibawa menggunakan talam sebelum kemudian disiapkan untuk dinikmati bersama.
Rangkaian kegiatan juga dikoordinasikan Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Ishlah Pariangan. Menurut Jatinir, salah seorang anggota PHBI, kepanitiaan tersebut telah diformalkan sejak 2012 dan memiliki sekitar 80 hingga 100 anggota aktif.
PHBI menangani berbagai kebutuhan kegiatan, mulai dari perencanaan, perlengkapan, memasak, pembagian makanan hingga membersihkan tempat setelah kegiatan selesai.
Dengan pembagian peran tersebut, muluik tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan yang berlangsung dalam satu hari. Ada kerja bersama yang dimulai sebelum acara hingga kegiatan berakhir.
Basirabuik dan Ingatan Anak-anak tentang Muluik
Pada akhirnya, basirabuik mungkin terlihat sebagai bagian kecil dari keseluruhan peringatan Maulid Nabi. Namun, bagi anak-anak yang ikut dalam tradisi itu, kegiatan tersebut dapat menjadi pengalaman yang melekat dalam ingatan mereka tentang muluik di kampungnya.
Mereka mengenal Maulid Nabi bukan hanya melalui hikayat yang dibacakan, tetapi juga melalui pengalaman berada di tengah masyarakat, melihat makanan yang dibawa dari rumah, mengikuti kegiatan di masjid dan kemudian ikut meramaikan basirabuik.
Bagi orang dewasa, tradisi itu menjadi bagian dari kebiasaan yang terus dijaga. Ada yang memasak, membawa makanan, menjadi panitia, memimpin kegiatan keagamaan atau memastikan seluruh rangkaian berjalan sebagaimana mestinya.
Di tengah perubahan kehidupan masyarakat, pola semacam itu menunjukkan bahwa sebuah tradisi tidak selalu bertahan karena aturan tertulis. Ia dapat terus hidup karena masyarakat masih mau melakukannya dan generasi berikutnya masih diberi ruang untuk mengalaminya.
Basirabuik pada akhirnya bukan hanya tentang makanan yang diperebutkan anak-anak. Ia adalah bagian dari cara masyarakat Jorong Pariangan merayakan muluik: mempertemukan kegiatan keagamaan, kebiasaan makan bersama dan ruang interaksi antargenerasi.
Dan selama masyarakat masih berkumpul di Masjid Ishlah, masih ada bakayaik, masih ada makanan yang dibawa dengan talam, serta anak-anak yang menunggu bagian mereka, tradisi itu masih memiliki tempat dalam kehidupan Jorong Pariangan.
*Egi Priyatno
Mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.





















