Anak-anak memiliki ruang untuk ikut merasakan perayaan, sementara orang dewasa tetap menjalankan peran masing-masing agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung.
Tradisi itu juga tidak sepenuhnya sama di seluruh wilayah Nagari Pariangan. Di Jorong Guguak, misalnya, peringatan Maulid Nabi berlangsung lebih sederhana melalui hikayat dan makan bersama tanpa basirabuik.
Sementara di Jorong Sikaladi, basirabuik pernah dilaksanakan, tetapi kini tidak lagi menjadi bagian dari perayaan. Masyarakat masih mempertahankan pembagian nasi sebagai salah satu kegiatan Maulid Nabi.
Di Jorong Padang Panjang Pariangan, basirabuik masih dapat ditemukan, meski skalanya lebih kecil dibandingkan Jorong Pariangan.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi dapat tumbuh dengan bentuk yang berbeda meskipun berada dalam satu nagari. Setiap jorong memiliki cara sendiri dalam mempertahankan bagian-bagian tertentu dari perayaan Maulid Nabi.
Ketika Tradisi Menyesuaikan Waktu
Ada hal lain yang menarik dari perjalanan muluik di Jorong Pariangan. Tradisi ternyata tidak selalu harus berlangsung pada waktu yang sama setiap tahun.
Biasanya, masyarakat tidak melaksanakan Maulid Nabi tepat pada tanggal merah. Jika peringatan jatuh pada Kamis, misalnya, kegiatan biasanya dilaksanakan pada hari Rabu setelahnya sesuai kebiasaan yang telah berlangsung.
Namun, pada 2026, kebiasaan tersebut berubah. Peringatan Maulid Nabi di Jorong Pariangan dilaksanakan pada Selasa, 25 Agustus 2026, bertepatan dengan hari libur nasional Maulid Nabi Muhammad SAW.
Pilihan waktu tersebut berkaitan dengan keterlibatan masyarakat, terutama anak-anak. Ketika kegiatan dilaksanakan pada hari sekolah, anak-anak harus berada di sekolah sehingga tidak dapat mengikuti perayaan.
Padahal, kehadiran anak-anak menjadi salah satu bagian yang membuat suasana muluik dan basirabuik lebih ramai. Karena itu, pelaksanaan pada hari libur memberi kesempatan lebih luas bagi mereka untuk hadir dan mengikuti kegiatan.
Di sinilah tradisi menunjukkan kemampuannya untuk menyesuaikan diri. Bentuk utamanya tetap dipertahankan, tetapi waktunya dapat mengikuti kondisi masyarakat.
Banyak Tangan Menjaga Satu Tradisi
Keberlangsungan muluik di Jorong Pariangan tidak berdiri di atas satu kelompok saja. Ulama atau siak memiliki peran dalam memimpin kegiatan keagamaan, terutama bakayaik dan doa.





















