Selain daya beli masyarakat, Asni menilai perubahan kebiasaan berbelanja turut memengaruhi keberlangsungan usaha pedagang pasar tradisional. Kehadiran platform belanja daring membuat sebagian konsumen lebih memilih membeli barang tanpa harus datang langsung ke toko.
“Kemungkinan masyarakat juga lebih memilih beli online karena tidak perlu capek-capek. Barang bisa langsung sampai di pintu rumah. Sementara kami yang berjualan di pasar harus menunggu pembeli datang ke toko,” ungkapnya.
Perubahan pola belanja tersebut juga diakui Riza (23), warga Koto Tangah, Kota Padang, yang ditemui saat berbelanja di Pasar Raya Fase VII. Ia mengatakan, memilih datang langsung untuk membeli jilbab karena barang tersebut dibutuhkan untuk menghadiri sebuah acara keesokan harinya.
Menurut Riza, berbelanja langsung memberinya kesempatan untuk melihat dan memastikan barang sebelum membeli. Pengalaman mendapatkan barang yang tidak sesuai ekspektasi saat berbelanja daring juga menjadi salah satu pertimbangannya.
“Saya pergi ke sini untuk membeli jilbab karena kalau beli online sering tidak sesuai ekspektasi. Kebetulan barangnya juga dibutuhkan untuk acara besok, jadi tidak mungkin kalau harus menunggu pesanan online,” ujarnya.
Meski demikian, Riza mengaku tidak selalu berbelanja secara langsung. Jika tidak ada kebutuhan mendesak, ia terkadang memilih menggunakan platform belanja daring karena dinilai lebih praktis.
Saat berada di Pasar Raya Fase VII, Riza juga mengamati jumlah pengunjung yang relatif sedikit. Ia mengaku tidak banyak melihat pembeli berlalu-lalang di kawasan tersebut.
“Sepi, Pak. Dari tadi saya lihat tidak banyak pembeli yang lalu-lalang, mungkin hanya bisa dihitung jari,” katanya.





















