Kabarminang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Solok Selatan bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat (Sumbar) menanam 1.000 bibit pohon produktif dan tanaman kehutanan sebagai bagian dari upaya pemulihan ekologi serta peningkatan kualitas tutupan lahan. .
Penanaman pohon secara serentak tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-81 Provinsi Sumatera Barat. Di Kabupaten Solok Selatan, kegiatan dipusatkan di SMA Negeri 9 Solok Selatan pada Rabu (14/10/2026).
Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) itu merupakan bentuk kolaborasi pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi melalui Kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KKPHP). Sebanyak 1.000 bibit yang disiapkan terdiri atas alpukat, durian, manggis, kayu manis, dan kayu surian.
Bibit tersebut disalurkan kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Macang Badadu di Jorong Lasuang Batu, Nagari Kapau. Kelompok tani itu merupakan binaan KPHP Solok Selatan. Sebagian bantuan bibit juga diberikan kepada SMA Negeri 9 Solok Selatan sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan.
Staf Ahli Bupati Solok Selatan, Indra Zuardi, mengatakan pemilihan lingkungan sekolah sebagai salah satu lokasi penanaman bukan sekadar untuk memperluas penghijauan. Langkah tersebut juga ditujukan untuk menanamkan kesadaran menjaga lingkungan kepada generasi muda sejak dini.
Menurutnya, keterlibatan sekolah dalam kegiatan penghijauan dapat menjadi sarana edukasi lingkungan yang berkelanjutan. Dengan demikian, kepedulian terhadap kelestarian alam diharapkan tumbuh melalui tindakan nyata, bukan hanya melalui pembelajaran di ruang kelas.
Indra juga mengingatkan masyarakat tentang dampak bencana hidrometeorologi yang melanda kawasan Solok dan sekitarnya pada 2026, serta sejumlah wilayah di Sumatera Barat pada akhir 2025. Bencana tersebut sempat melumpuhkan aktivitas masyarakat dan merusak fasilitas publik.
Ia menekankan bahwa upaya menjaga lingkungan dan meningkatkan kualitas tutupan lahan perlu menjadi perhatian bersama, terutama di tengah risiko banjir bandang dan tanah longsor. Menurutnya, faktor cuaca, kondisi geografis, intensitas hujan, serta aktivitas manusia yang berdampak pada degradasi lahan perlu diperhitungkan dalam pengelolaan lingkungan.
“Faktor cuaca ekstrem, lereng gunung yang curam, tingginya intensitas hujan, penyebab utama banjir bandang dan longsor. Kita harus mengambil hikmah secara arif dan bijaksana dengan memperhitungkan risiko serta meningkatkan kualitas tutupan lahan,” tuturnya.





















