Kabarminang – Kualitas udara di Kota Bukittinggi memburuk pada Selasa (8/9/2026). Indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) tercatat berada di angka 152 dan masuk kategori tidak sehat.
Data pemantauan menunjukkan, buruknya kualitas udara tersebut dipicu oleh tingginya konsentrasi partikel halus PM2.5 yang mencapai 57,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka itu menjadi perhatian karena PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Sistem pemantauan bahkan mencatat konsentrasi PM2.5 di Bukittinggi saat ini mencapai 11,5 kali nilai panduan tahunan WHO.
AQI pada angka 152 menempatkan kualitas udara Bukittinggi pada kategori tidak sehat. Kondisi tersebut menunjukkan polusi udara tidak hanya perlu diwaspadai oleh kelompok rentan, tetapi juga berpotensi berdampak terhadap masyarakat yang melakukan aktivitas dalam waktu lama di luar ruangan.
Situasi ini menjadi perhatian mengingat Bukittinggi selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan udara relatif sejuk. Namun, kondisi pada Selasa siang menunjukkan kualitas udara kota tersebut turut terdampak tingginya konsentrasi partikulat di atmosfer.
Kondisi Belum Stabil hingga Sepekan ke Depan
Berdasarkan prakiraan harian, kualitas udara Bukittinggi diperkirakan masih berfluktuasi dalam beberapa hari ke depan.
Pada Selasa, AQI diproyeksikan berada di angka 135, kemudian 134 pada Rabu. Kondisi diperkirakan sedikit membaik pada Kamis dengan AQI 104 dan Jumat di angka 76.
Namun, perbaikan tersebut belum sepenuhnya stabil. Pada Sabtu, indeks kualitas udara kembali diperkirakan naik menjadi 106, kemudian meningkat ke angka 143 pada Minggu dan 148 pada Senin.
Fluktuasi tersebut menunjukkan masyarakat masih perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kualitas udara, terutama apabila kondisi kembali memasuki kategori tidak sehat.
















