Kabarminang — Aktivitas pertambangan emas ilegal di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari di wilayah pegunungan Bukit Barisan, tepatnya di sekitar Gunung Rasan di perbatasan Pesisir Selatan dan Solok, serta kawasan Danau Di atas di Solok kini memicu pencemaran merkuri masif. Dampaknya telah meluas hingga ke Provinsi Jambi.
Pakar Lingkungan sekaligus Ketua Forum DAS Sumatera Barat (Sumbar) dan Guru Besar Universitas Gunadarma, Isril Berd, menegaskan bahwa penggunaan bahan kimia berbahaya dalam pengolahan emas secara liar telah merusak sistem ekologi perairan secara lintas wilayah.
”Aktivitas pengolahan emas yang memanfaatkan merkuri menghasilkan limbah beracun yang mengalir mengikuti gaya gravitasi menuju sungai. Karena itu, pencemaran dari hulu DAS di Sumatera Barat kini dampaknya sudah melintasi batas provinsi sampai ke hilir Sungai Batanghari di Jambi,” kata Isril kepada Kabarminang.com pada Minggu (6/9/2026).
Isril menjelaskan bahwa penggunaan air raksa secara bebas oleh para penambang liar mencemari aliran air dan mengendap pada biota perairan dalam jangka panjang. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya memicu kematian ekosistem sungai, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat sekitar dengan risiko penyakit kulit hingga cacat lahir pada generasi mendatang.
Selain itu, kata Isril, penambangan liar di sepanjang tepi sungai telah memicu tingkat kekeruhan air yang amat pekat serta sedimentasi parah di sepanjang sub-DAS Batanghari. Ia menerangkan bahwa pendangkalan sungai dan perubahan alur alami air berakibat pada turunnya kualitas air bersih yang selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan harian.
Isril menyoroti adanya pergeseran metode penambangan dari cara-cara tradisional menuju operasi skala besar yang mempercepat skala kerusakan alam.
”Dahulu warga menambang secara manual menggunakan sekop atau dulang, tetapi sekarang aktivitas tersebut sudah memakai puluhan hingga ratusan unit alat berat seperti ekskavator dan buldozer,” ujar Isril.
Isril menyampaikan bahwa penambang skala kecil dari masyarakat lokal umumnya terdesak oleh kebutuhan ekonomi harian. Sementara itu, katanya, pemodal besar bertindak sebagai pihak yang meraup keuntungan utama di tengah kehancuran lingkungan.















