Kabarminang – Nama Bank Mandiri kembali menjadi perhatian publik. Di tengah polemik yang belakangan ramai diperbincangkan secara nasional, muncul sorotan lain terhadap bank tersebut dari sisi pembiayaan perusahaan yang disebut berisiko terhadap kerusakan lingkungan dan bencana ekologis di Sumatera.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara mengungkap Bank Mandiri tercatat sebagai bank dalam negeri dengan nilai pembiayaan terbesar, mencapai US$3,752 miliar.
Data tersebut dipublikasikan WALHI Sumut melalui akun Instagram @walhisumut pada Senin (24/8/2026), dan dikutip pada Selasa (25/8/2026).
Mengutip data Forests & Finance, WALHI Sumut menyebut sepanjang periode 2014–2025, total pembiayaan yang terdeteksi mengalir kepada sejumlah perusahaan di sektor berisiko di Sumatera mencapai US$42,9 miliar.
Jumlah tersebut terdiri dari US$16,9 miliar berupa pinjaman dan US$26,1 miliar melalui pembiayaan penjaminan atau underwriting.
“Mirisnya, aliran dana tetap terjadi di tengah meningkatnya risiko ekologis dan konflik sosial di wilayah operasi perusahaan,” tulis WALHI Sumut dalam unggahannya.
Bank Mandiri Tertinggi di Dalam Negeri
Dalam daftar 20 pemberi pinjaman terbesar yang ditampilkan WALHI Sumut, Bank Mandiri berada di posisi kedua secara keseluruhan dengan nilai US$3,752 miliar.
Posisi pertama ditempati SDIC Finance dari China dengan US$5,338 miliar.
Sementara bank dalam negeri lainnya yang masuk daftar adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan US$1,649 miliar dan Bank Negara Indonesia (BNI) sebesar US$1,144 miliar.
Data tersebut menunjukkan pembiayaan yang dipetakan WALHI Sumut tidak hanya melibatkan lembaga keuangan Indonesia. Sejumlah lembaga keuangan dari China, Jepang, Inggris, Singapura, Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia juga tercantum dalam daftar.
NSHE Jadi Penerima Pembiayaan Terbesar
Berdasarkan kelompok perusahaan, PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), pengelola PLTA Batang Toru, tercatat sebagai penerima pembiayaan terbesar dengan total US$23 miliar.















