Kabarminang — Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang menerima hibah 7.080 buku Sastra Klasik Tamil dari Government of Tamil Nadu, India. Penyerahan tersebut dilakukan secara simbolis oleh Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, di Istana Gubernur Sumatera Barat, Jumat (24/7/2026).
Penyerahan ribuan buku itu menjadi bagian dari program diplomasi budaya dan penguatan literasi melalui International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) yang diselenggarakan SatuPena Sumatera Barat.
Bantuan koleksi buku itu diterima oleh Wakil Rektor III UIN Imam Bonjol Padang, Nelmawarni, bersama jajaran universitas.
Ketua SatuPena Sumatera Barat sekaligus Founder & Chairperson IMLF-4, Sastri Yunizarti Bakry, mengatakan hibah tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang.
Menurut Sastri, koleksi yang diserahkan dikemas dalam empat boks yang memuat beragam referensi penting, mulai dari karya sastra klasik hingga sastra modern. Salah satu koleksi menghadirkan naskah-naskah sastra yang berasal dari rentang tahun 1500 hingga 2000 sebagai rujukan kajian.
“Umur isi bukunya 2.000 tahun yang lalu, tetapi sudah diproduksi dalam kemasan baru. Keberadaan koleksi tersebut diharapkan dapat memperkaya referensi akademik di lingkungan UIN Imam Bonjol Padang, khususnya bagi sivitas akademika yang mendalami bidang sastra, sejarah, budaya, dan peradaban,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyambut baik penyerahan koleksi buku kepada perguruan tinggi di Sumatera Barat. Menurutnya, karya-karya yang diserahkan memiliki nilai sejarah dan kebudayaan yang tinggi, termasuk sejumlah literatur yang mengangkat peradaban berusia sekitar dua ribu tahun.
Mahyeldi juga menyinggung berbagai temuan arkeologis di Sumatera Barat yang menunjukkan jejak peradaban sejak sekitar dua ribu tahun lalu. Ia menyebut sejumlah hasil penelitian, termasuk temuan yang telah dipaparkan oleh Kementerian Kebudayaan, menjadi penguat bahwa masyarakat Minangkabau telah memiliki peradaban dan budaya sejak masa awal Masehi.
Meski demikian, Mahyeldi menilai masih banyak bukti sejarah dan budaya yang belum terdokumentasikan dengan baik sehingga memerlukan perhatian bersama.
“Dengan adanya berbagai fakta dan temuan tersebut, anggapan yang selama ini berkembang dapat dipatahkan. Sumatera Barat sesungguhnya telah memiliki budaya yang berkembang jauh sejak masa Masehi, dan masyarakat Minangkabau telah membangun peradabannya sejak waktu itu,” imbuhnya.
















