Kabarminang – Seorang guru honorer di MTsN 10 Pesisir Selatan di Nagari Kudo-Kudo Inderapura, Kecamatan Pancung Soal, berjalan kaki enam kilometer (km) untuk pergi ke sekolah. Ia hanya bisa berjalan kaki karena satu-satunya sepeda motornya ditarik oleh diler karena tidak mampu membayar cicilan kredit.
Guru tersebut Hamdani Hamdan (26 tahun), warga Sungai Gemuruh, Nagari Inderapura Selatan, Kecamatan Pancung Soal. Hamdani merupakan pengajar Bahasa Arab kelas VII di madrasah sanawiah tersebut. Ia mengabdi di sekolah tersebut sejak 2 Januari 2023.
Kepala MTsN 10 Pesisir Selatan, Azwar Alif, mengatakan bahwa selama lebih dari tiga tahun mengabdi, Hamdani tetap menjalankan tugasnya sebagai pendidik meski menghadapi berbagai keterbatasan. Ia menyebut bahwa sejak Januari 2026 Hamdani tidak lagi menerima honor yang biasa diterimanya sehingga ia sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membayar cicilan sepeda motor yang digunakan sebagai sarana transportasi menuju sekolah.
“Beliau tetap datang mengajar seperti biasa meskipun kondisi ekonominya sedang sulit. Karena honor belum diterima, cicilan motor yang setiap bulan harus dibayar akhirnya menunggak hingga kendaraan tersebut tidak bisa dipertahankan,” ujar Azwar pada Senin (20/7/2026).
Setelah tidak lagi menggunakan sepeda motor, kata Azwar, Hamdani tetap datang ke sekolah setiap hari untuk mengajar. Ia menyebut bahwa Hamdani datang tepat waktu tiap pagi meskipun berjalan kaki dengan jarak sekitar enam km.
Sementara itu, Hamdani mengungkapkan bahwa cicilan sepeda motornya per bulan sebanyak Rp500 ribu per bulan. Karena tidak lagi menerima honor dari sekolah, ia tidak mampu membayar cicilan tiga bulan. Lantaran hal tersebut, tunggakan kredit sepeda motornya menjadi Rp1,5 juta, itu pun belum termasuk denda keterlambatan.
“Saya sempat berupaya mempertahankan kendaraan tersebut agar tetap bisa digunakan. Saya bahkan pernah menyembunyikan sepeda motor itu di kebun sawit belakang rumah setiap sore dan membawanya kembali ke rumah pada tengah malam,” tutur Hamdani.
Namun, upaya tersebut tidak berhasil. Hamdani mengatakan bahwa dealer meminta agar kendaraan diserahkan apabila tunggakan tidak dapat diselesaikan. Daripada motor diserahkan di sekolah dan diketahui banyak orang, katanya, ia akhirnya menyerahkan sepeda motor itu ke diler.
















