“Saat itu saya benar-benar tidak punya uang lagi untuk membayar cicilan,” ucap Hamdani.
Pakaian basah karena keringat
Sejak 4 Mei 2026, Hamdani tidak lagi memiliki kendaraan. Setiap pagi setelah salat Subuh, ia berjalan kaki sekitar enam kilometer dari rumahnya menuju MTsN 10 Pesisir Selatan agar tetap dapat mengajar tepat waktu.
Perjuangan itu berlangsung setiap hari tanpa banyak diketahui orang. Rekan-rekannya hanya melihat Hamdani selalu tiba di sekolah dalam kondisi berkeringat.
Azwar mengatakan bahwa kondisi tersebut akhirnya menarik perhatian seorang guru bernama Yesa. Setelah melihat Hamdani selalu datang lebih awal dengan pakaian basah oleh keringat, Yesa mengajak Hamdani berbicara dan menanyakan kondisinya.
“Yesa kemudian berkonsultasi dengan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, lalu dengan guru-guru lain. Akhirnya, para guru bermusyawarah dan mengambil keputusan untuk beriuran membelikan sepeda motor untuk Hamdani,” ucap Azwar.
Setelah lebih dari dua bulan berjalan kaki, Hamdani akhirnya menerima hadiah sebuah sepeda motor Honda Vario Techno tahun 2014. Motor itu dibeli dari uang patungan sekitar 40 guru dan tenaga kependidikan di madrasah tersebut.
Azwar mengatakan bahwa sepeda motor itu diserahkan oleh para guru dan tenaga kependidikan di ruang terbuka di depan ruang majelis guru MTsN 10 Pesisir Selatan pada Sabtu (18/7/2026). Ia menyebut bahwa hadiah tersebut merupakan bentuk solidaritas sesama guru dan tenaga kependidikan di sekolah itu kepada Hamdani, yang tetap menjalankan tugasnya sebagai pendidik meski menghadapi keterbatasan ekonomi.
“Saya mengapresiasi kepedulian para guru dan pegawai yang telah bergotong royong membantu salah seorang rekan mereka. Semoga bantuan ini dapat meringankan langkah Hamdani dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik,” ujar Azwar. (Muhammad Okta Ilvan)
















