Kabarminang — Muhammad Fathan Abdillah, bayi asal Nagari Guguak, Kecamatan 2×11 Kayutanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, harus menjalani perjuangan panjang sejak lahir. Di usia yang belum genap satu tahun, Fathan telah mengalami lima kondisi kesehatan dan bergantung pada alat medis seperti selang makan, oksigen, untuk menunjang kehidupannya.
Ia lahir pada 13 September 2025 di RS Yarsi Padang Panjang. Saat lahir, dokter mendiagnosis Fathan mengalami palatoskisis, yakni kondisi langit-langit mulut sumbing dan berlubang.
“Akibat kondisi tersebut, Fathan tidak dapat makan sebagaimana bayi pada umumnya. Ia harus diberi makan menggunakan selang. Kalau makanan masuk ke saluran napas, risikonya sangat berbahaya,” ujar ibunya, Ayu Wandira, Selasa (7/7).
Ia melanjutkan, saat Fathan berusia sekitar empat bulan, kondisinya memburuk hingga mengalami kesulitan bernapas dan harus dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Andalas. Setelah menjalani pemeriksaan, Fathan didiagnosis menderita tuberkulosis (TB) dan meningitis.
Dalam perawatan tersebut, Fathan menjalani operasi penutupan langit-langit mulut dan pemasangan trakeostomi untuk membantu jalan napasnya. Kemudian, pada April 2026, kondisi Fathan kembali menurun. Ia sempat dirawat di RSUD Padang Pariaman sebelum dirujuk ke RSUP dr. M. Djamil Padang.
“Dokter mengatakan jantungnya bocor. Setelah diperiksa lagi, ususnya juga bermasalah sehingga saluran buang air besarnya harus dipindahkan ke bagian perut,” tutur Ayu.
Ia melanjutkan, saat ini Fathan membutuhkan oksigen setiap hari, harus menggunakan kantong penampung buang air besar, serta menjalani kontrol rutin ke RSUP dr. M. Djamil Padang.
Ia menyebut, dirinya membesarkan Fathan seorang diri karena suaminya telah meninggalkannya sejak Fathan masih dalam kandungan dan hingga kini tidak lagi memberikan nafkah.
















