Kabarminang – Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) saat ini menghadapi ancaman serius berupa meningkatnya luas lahan kritis akibat maraknya alih fungsi hutan dan dampak perubahan iklim ekstrem. Kondisi tersebut dinilai mengancam produktivitas pertanian serta keselamatan masyarakat.
Guru Besar Universitas Gunadarma sekaligus Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumatera Barat, Prof. Isril Berd, mengungkapkan bahwa penurunan kemampuan produktivitas lahan di Sumbar terjadi secara masif. Akibatnya, sejumlah lahan produktif berubah menjadi lahan tidur yang terbengkalai dan ditumbuhi semak belukar.
“Penggurunan atau degradasi lahan ini bukan lagi sekadar isu global, melainkan ancaman nyata di depan mata kita yang menurunkan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, penyebab utama kerusakan ini adalah aktivitas manusia yang tidak terkontrol, seperti pembalakan liar, pertambangan tanpa izin, serta tata kelola lahan yang mengabaikan prinsip kelestarian lingkungan. Faktor tersebut diperparah oleh bencana hidrometeorologi dan mekanisme geologi longsor pada lereng-lereng terjal.
Berdasarkan data yang disampaikan, luas lahan kritis di tingkat nasional saat ini mencapai 12,3 juta hektar. Sementara itu, Sumatera Barat menyumbang sekitar 197.629 hektar lahan kritis. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.292 hektar berada di Padang dan sebagian besar didominasi hamparan alang-alang.
Prof. Isril menyebut pembalakan liar sebelumnya marak terjadi di sejumlah kawasan hulu DAS di Sumbar, seperti Tapan di Pesisir Selatan, Pasaman Barat, dan Lima Puluh Kota. Di Kota Padang, kerusakan vegetasi hutan juga terdeteksi di wilayah hulu DAS Timbalun, Bungus, Arau, Air Dingin, hingga DAS Kandis.
.Kerusakan yang terjadi di hulu DAS Timbalun Bungus disebut telah memicu banjir bandang yang merusak area persawahan dan ladang warga, serta meningkatkan risiko terhadap kawasan permukiman di bagian hilir.
“Kerusakan di hulu DAS langsung berdampak pada hilir, di mana masyarakat kehilangan lahan pencaharian akibat banjir dan longsor,” tegasnya.
















