Kabarminang – Ketua Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Sumatra Barat, Fitri Effendy menyebut bahwa perkembangan kasus LGBT di Sumbar saat ini sudah berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan.
Pernyataan tersebut disampaikannya saat menjadi penanggap dalam Webinar Internasional BP2DIM ke-III bertema Peranan ABS-SBK dalam Menangkal Maraknya LGBT dan Kerusakan Moral di Minangkabau yang digelar secara daring pada Sabtu (30/5/2026) mulai pukul 08.30 WIB.
Fitri Effendy yang juga memimpin perkumpulan Peduli Anak Nagari (PADAN) menjelaskan bahwa berdasarkan data yang dihimpun organisasinya, laporan terkait penyimpangan seksual ini masuk hampir setiap bulan. Menurut pengalamannya mendampingi kasus ini selama 15 tahun, mayoritas perilaku LGBT tersebut dipicu oleh riwayat kekerasan seksual yang dialami korban di masa lalu.
“Kami menerima laporan kasus hampir setiap bulan. Jika diakumulasikan, jumlah kasus kekerasan seksual yang berujung pada perilaku LGBT ini bisa mencapai ratusan kasus setiap tahunnya di Sumatra Barat,” kata Fitri.
Lebih lanjut, Fitri Effendy membeberkan salah satu studi kasus berskala besar yang pernah ditanganinya di salah satu kabupaten di Sumbar untuk menggambarkan betapa masifnya ancaman ini. Dalam kasus tersebut, tercatat ada satu orang pelaku dewasa yang berhasil menyimpangkan dan menyodomi puluhan anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya.
“Saya pernah menangani langsung satu kasus besar di sebuah kabupaten di Sumbar, di mana satu orang pelaku tega mencabuli 68 anak. Korban paling muda bahkan baru berusia 1,5 tahun. Tragisnya, dari puluhan korban itu, empat anak di antaranya kini terdeteksi telah berubah menjadi pelaku atau predator baru,” ujar Fitri Effendy.
Melihat fakta di lapangan, Fitri Effendy menegaskan bahwa tren usia pelaku maupun korban LGBT kini telah mengalami pergeseran yang sangat drastis dan tidak lagi didominasi oleh kelompok usia remaja atau dewasa. Berdasarkan temuan terbaru di lapangan, perilaku penyimpangan seksual ini sudah merambah dan ditemukan pada anak-anak di tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Taman Kanak-Kanak (TK).
“Isu LGBT ini sudah masuk ke tingkat SD dan TK. Seminggu yang lalu, kami menemukan lima kasus anak SD. Kronologinya, seorang anak kelas 5 SD menjadi korban dari orang dewasa, lalu dia menularkan perilaku salah tersebut kepada empat orang temannya yang masih duduk di kelas 1, 2, dan 3 SD,” ungkap Fitri Effendy.
Di hadapan peserta webinar, Fitri Effendy juga menerangkan kondisi psikologis dan medis dari para korban anak tersebut yang beberapa di antaranya sudah meniru aktivitas seksual orang dewasa. Dirinya mengingatkan agar masyarakat melihat fenomena pada anak ini dari kacamata medis, karena stimulasi pada area sensitif anak bisa merekam memori biologis yang berbahaya bagi perkembangannya.
“Dari lima anak SD yang kami dampingi kemarin, dua di antaranya bahkan sudah saling melakukan tindakan seksual. Secara medis, jika area sensitif anak sengaja diganggu atau dirangsang, itu akan menimbulkan sensasi tertentu bagi mereka, dan ingatan biologis inilah yang berbahaya jika dibiarkan,” tutur Fitri Effendy.
Terkait akar penyebab masalah, Fitri Effendy memaparkan hasil penelusuran psikologis yang menunjukkan bahwa kerapuhan ruang domestik atau keluarga menjadi alasan utama mengapa anak-anak sangat rentan terpengaruh arus LGBT. Berdasarkan analisis klinis, ada tiga faktor utama yang membuat anak mencari pelarian di luar rumah, yaitu kondisi fatherless atau hilangnya sosok ayah, keluarga yang retak (broken home), serta tingginya intensitas konflik antara orang tua.
“Anak-anak ini rentan terpengaruh karena mereka tidak mendapatkan ketenangan di rumah. Faktor utamanya adalah kurangnya perhatian dari sosok ayah, perceraian, atau orang tua yang sering bertengkar sehingga anak mencari kenyamanan yang keliru di luar rumah,” jelas Fitri Effendy.
Fitri Effendy memberikan imbauan keras sekaligus mengoreksi pola pikir orang tua zaman sekarang yang dinilainya sering kali lengah dan salah kaprah dalam mengawasi pertemanan anak. Dirinya meminta para orang tua di Minangkabau untuk tidak lagi merasa aman secara semu hanya karena anak mereka beraktivitas dengan sesama jenis.
“Dulu orang tua takut kalau anak laki-lakinya pergi dengan perempuan. Sekarang polanya harus diubah, orang tua justru harus sangat waspada jika mendapati anaknya hanya mau menghabiskan waktu dengan teman yang sesama jenis kelamin. Jangan abai, bentengi anak-anak kita sejak dini di dalam rumah,” pungas Fitri Effendy.















