Kabarminang — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Barat (Sumbar) mengkritik keras kinerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar yang dinilai gagal mencegah tingginya konflik antara manusia dan harimau Sumatra akibat pembiaran kerusakan hutan.
Direktur Eksekutif Walhi Sumbar, Tommy Adam, menyatakan bahwa pendekatan BKSDA selama ini salah kaprah karena hanya fokus mengevakuasi harimau setelah konflik terjadi. Menurutnya, instansi tersebut sangat pasif dan minim melakukan tindakan pencegahan di lapangan.
“BKSDA Sumbar itu kerjanya reaktif, baru bergerak kalau sudah ada masalah. Mereka sibuk pasang kandang jebak dan evakuasi harimau, tapi lupa mencegah akar masalahnya, yaitu hancurnya habitat hutan,” ujar Tommy kepada Sumbarkita pada Jumat (29/5/2026).
Tommy mengatakan bahwa konflik terbaru membuktikan adanya penyempitan ruang hidup satwa akibat alih fungsi hutan menjadi kebun warga. Ia menyebut bahwa kasus nyata terjadi saat Tim BKSDA Sumbar mengevakuasi anak harimau betina berusia 9–11 bulan yang terluka akibat terkena jerat di kebun warga Kecamatan Rao, Pasaman, pada 21 Mei 2026.
Tommy menyayangkan kondisi tersebut karena menunjukkan bahwa habitat harimau sudah bersinggungan langsung dengan aktivitas perkebunan manusia. Ia menegaskan bahwa maraknya pemasangan jerat babi di hutan menjadi bukti lemahnya pengawasan dari pihak berwenang.
“Kasihan anak harimau di Pasaman itu, kakinya terluka parah kena jerat di kebun. Ini bukti nyata kalau rumah mereka di hutan sudah rusak, sehingga mereka terpaksa keluar mencari makan ke lahan warga,” ucap Tommy.
Tommy juga menyoroti penangkapan harimau remaja bernama “Puti Batuah” di Kecamatan Palupuh, Agam, pada 22 Mei 2026. Ia mengatakan bahwa harimau tersebut terpaksa dikurung dalam kandang jebak setelah berkeliaran di permukiman dan persawahan warga sejak awal Mei hingga membuat masyarakat terisolasi.
Tommy menilai pemindahan harimau Agam ke tempat penitipan medis bukan prestasi, melainkan dampak dari kelalaian BKSDA Sumbar memproteksi kawasan suaka margasatwa dan cagar alam. Menurutnya, satwa dilindungi tersebut terpaksa turun gunung karena wilayah berburunya habis ditebang.















