Tak Mudah Mengikuti Perdagangan Digital
Perubahan pola perdagangan menjadi tantangan tersendiri bagi Afneta. Ia mengaku tidak memahami cara berjualan melalui internet maupun melakukan transaksi menggunakan telepon seluler.
“Jangankan jualan online, mengirim uang lewat HP saja ibu tidak mengerti,” katanya.
Ketika ada pembeli yang ingin membayar menggunakan QRIS, Afneta biasanya meminta pembayaran secara tunai.
“Kalau ada yang mau bayar lewat QR, ibu bilang tidak bisa, uang tunai saja,” ujarnya.
Jika pembeli tidak memiliki uang tunai, Afneta meminta bantuan anaknya. Anak tersebut akan mengirimkan gambar kode QR melalui telepon seluler untuk kemudian ditunjukkan kepada pembeli. Cara tersebut menjadi salah satu upaya Afneta menghadapi perubahan sistem pembayaran, meski transaksi di kedainya masih lebih sering dilakukan secara tunai.
Tetap Membuka Kedai
Di tengah perdagangan yang semakin sepi, Afneta tetap datang dan membuka kedainya dari pagi hingga sore. Penghasilan dari berjualan sepatu bekas kini digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kedua anaknya telah berkeluarga dan tinggal bersama keluarga masing-masing.
Setiap pagi sekitar pukul 08.00 WIB, Afneta kembali membuka kedainya. Sepatu-sepatu bekas dipajang di rak dan digantung di bagian depan lapak. Hingga pukul 16.00 WIB, ia tetap menunggu siapa saja yang datang mencari sepatu.
Hari itu, suasana Gang Senggol tidak seramai yang pernah ia rasakan pada masa lalu. Namun, Afneta tetap duduk di kedainya, menunggu pelanggan yang mungkin datang.
Bagi Afneta, membuka kedai dan menunggu pembeli telah menjadi bagian dari kesehariannya untuk terus memenuhi kebutuhan hidup.














