Kabarminang — Kasus pembunuhan LI (61), pensiunan guru, di Jorong Talago, Kenagarian VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Limapuluh Kota, sudah lebih dari tiga pekan berlalu. Namun, hingga kini kepolisian belum menetapkan satu pun tersangka. Ketidakpastian itu kian menekan kondisi psikologis anak-anak dan keluarga korban yang masih menunggu keadilan.
Korban ditemukan tewas di halaman rumahnya pada 19 Desember 2025 dengan kondisi mengenaskan. LI dikenal luas sebagai pendidik yang bersahaja. Justru karena latar belakang itulah, kasus itu menyisakan tanda tanya besar tentang siapa pelaku dan apa motif di balik pembunuhan tersebut.
Ketiadaan kejelasan setelah tiga pekan penyelidikan memunculkan kegelisahan di kalangan keluarga korban. Hingga kini mereka mengaku belum menerima hasil pemeriksaan forensik secara resmi maupun penjelasan substantif terkait arah penyidikan.
“Kami bukan hanya kehilangan ibu. Kami juga kehilangan kepastian. Sudah tiga minggu, tapi belum ada kejelasan siapa pelakunya, apa motifnya, bahkan hasil pemeriksaan forensik pun belum kami terima,” ujar Adif, salah satu anak korban, kepada Sumbarkita pada Sabtu (10/1).
Di tengah sorotan publik tersebut, Kepala Polres 50 Kota, AKBP Syaiful Wachid, menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam. Ia memastikan penyelidikan masih berjalan intensif dan melibatkan tim gabungan.
“Saat ini Polres 50 Kota melalui tim gabungan yang dipimpin Kasat Reskrim, Kasat Intel, dan Kapolsek Guguak masih terus bekerja dengan segala upaya untuk mengungkap kasus dugaan pembunuhan almarhumah Ibu Lidia,” ujar Syaiful menjawab Sumbarkita pada Sabtu (10/1).
Menurut Syaiful, penyelidikan dilakukan dengan pendekatan ganda, yakni metode manual dan scientific crime investigation. Hingga kini, katanya, 24 saksi telah diperiksa, disertai pendalaman terhadap berbagai petunjuk dan barang bukti di lokasi kejadian.
“Kami berkomitmen all out di lapangan. Yang jelas, tim masih bekerja untuk berusaha cepat mengungkap kasus ini,” tuturnya.
Meskipun demikain, di balik pernyataan tersebut polisi mengakui adanya sejumlah kendala dalam proses penyelidikan. Kendala itu belum dapat dipublikasikan ke ruang publik karena dikhawatirkan dapat dipantau oleh pihak-pihak tertentu.
“Ada beberapa hambatan yang belum bisa kami sampaikan. Kami khawatir tersangka atau pihak yang berkepentingan ikut memantau perkembangan penyelidikan. Tapi, kami optimistis, dengan semangat pantang menyerah, kendala itu bisa kami lalui,” ucap Syaiful.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan kompleksitas kasus yang tengah ditangani. Namun, bagi keluarga korban, keterbatasan informasi tersebut justru memperpanjang luka dan ketidakpastian. Mereka berharap transparansi dapat tetap dijaga tanpa harus mengganggu strategi penyidikan.
Kasus itu bukan sekadar soal pengungkapan tindak pidana, melainkan juga menyangkut rasa aman masyarakat dan penghormatan terhadap nyawa seorang pendidik. Publik kini menanti apakah kerja all out yang diklaim kepolisian dapat segera berbuah pada penetapan tersangka dan kejelasan motif.
Syaiful pun meminta dukungan masyarakat agar proses hukum dapat berjalan optimal.
“Kami mohon doa dan dukungan dari masyarakat agar kasus ini segera terungkap,” ujarnya.
















