Sementara itu, salah seorang perangkat Nagari Pagadih yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa pihak nagari memang menerima bantuan dari kantor camat, namun tidak mengetahui secara pasti asal bantuan tersebut.
“Betul kami ada menerima logistik dari kantor camat, tapi kami tidak tahu asalnya dari mana. Jumlah yang kami terima hanya sekitar 100 kilogram,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pihak nagari dua kali diminta menjemput bantuan ke kantor camat. Permintaan pertama dilakukan sebelum helikopter mendarat, sedangkan yang kedua dilakukan setelah helikopter mendarat.
“Yang kami terima di antaranya beras 50 kilogram, satu dus sembako anak, lima dus biskuit anak, satu dus mi instan, dan dua dus makanan ringan,” katanya.
Hal senada disampaikan seorang tokoh masyarakat Nagari Pagadih. Ia mengungkapkan bahwa masyarakat memperoleh informasi adanya helikopter yang menyalurkan bantuan logistik, namun disebut-sebut diturunkan di Nagari Pasia Laweh, bukan langsung ke Pagadih.
“Kami dengar ada helikopter menurunkan bantuan, tapi katanya di Pasia Laweh. Sementara kami diminta menjemput bantuan ke kantor camat,” ujarnya.
Ia menilai terdapat ketidakjelasan mekanisme penyaluran bantuan, terutama jika dibandingkan dengan data yang dipublikasikan TNI AU.
“Kalau berdasarkan informasi resmi, Jorong Pagadih seharusnya menerima 1.200 kilogram. Tapi yang sampai ke kami hanya sekitar 100 kilogram. Jadi kami bingung, apakah memang regulasinya harus lewat camat atau seharusnya langsung ke jorong,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak TNI AU maupun instansi terkait lainnya mengenai perbedaan data dan mekanisme distribusi bantuan yang dipersoalkan warga.
















