Tommy Adam juga merinci rentetan tragedi maut, dari kejadian di Pasaman Barat pada 2012 dan 2019, hingga rangkaian kecelakaan di Solok Selatan yang kerap memakan korban jiwa dalam jumlah banyak. Kemudian, peristiwa pada April 2020 di Sangir Batanghari hingga puncaknya di Hiliran Gumanti Solok pada September 2024, yang menewaskan 13 orang.
“Ini membuktikan bahwa nyawa rakyat terus melayang di lubang tambang,” ucapnya.
Tommy menegaskan bahwa rentetan peristiwa itu bukan sekadar kecelakaan kerja biasa, melainkan sebuah bentuk pembunuhan ekologis yang terstruktur.
“Ini adalah pembunuhan ekologis yang terjadi karena pembiaran negara terhadap mafia; pemerintah jangan lagi berlindung di balik alasan urusan perut atau mata pencarian rakyat,” kata Tommy.
Ia memaparkan fakta di lapangan bahwa aktivitas penambangan emas ilegal saat ini sudah menggunakan ekskavator 20 ton dengan biaya operasional mencapai ratusan juta Rupiah per tahun.
“Ini bukan lagi sekadar urusan rakyat kecil, melainkan bisnis besar yang melibatkan pemodal kuat serta diduga mendapat perlindungan atau beking dari oknum aparat penegak hukum,” tuturnya.
Dalam aspek lingkungan, Tommy menjelaskan bahwa aktivitas ilegal itu telah menghancurkan lebih dari 10.000 hektare lahan yang kini dibiarkan menganga tanpa ada upaya reklamasi.
“Hulu DAS Batanghari, Batahan, Pasaman, Indragiri, hingga Kampar telah hancur. Bahkan, penelitian Universitas Andalas menunjukkan kadar merkuri di Sungai Batanghari mencapai 5,198 mg per liter, sangat jauh dari ambang batas aman air minum,” ujarnya.
















