“Karena anak saya diusir dan tidak boleh belajar. Anak saya kelas VI, sedangkan anaknya kelas V,” kata SD.
Menurut SD, tindakan terhadap anaknya menjadi persoalan karena ia menilai masalah sebelumnya telah diselesaikan. Ia mengakui anaknya pernah melakukan kesalahan di sekolah, termasuk berkata kasar kepada guru. Namun, menurut SD, dirinya telah memberikan pembinaan kepada anaknya dan meminta anak tersebut meminta maaf.
Sementara itu, R memberikan versi berbeda mengenai awal persoalan. Menurut R, anak SD yang duduk di kelas III sebelumnya mendapat sanksi karena sejumlah persoalan, di antaranya tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR), terlambat mengikuti kegiatan sekolah, serta diduga berkata kasar dan kotor kepada guru.
R mengatakan persoalan bermula pada Kamis (27/8/2026), ketika dirinya bertugas piket dan mendapati anak SD sedang makan saat kegiatan baris hendak dimulai.
“Saya minta dia mempercepat makannya atau melanjutkan makan setelah berbaris. Setelah itu saya pergi memeriksa yang lain,” kata R.
Menurut R, siswa tersebut kemudian datang terlambat mengikuti apel bersama enam siswa lainnya. Ketujuh siswa itu kemudian diminta memungut sampah sebagai sanksi. Namun, R menyebut anak SD tidak menjalankan sanksi tersebut dan justru menendang ember sembari mengeluarkan kata-kata kasar.
Persoalan kembali terjadi pada Jumat (28/8/2026). R menyebut anak SD yang berada di kelas yang diajarnya kembali tidak mengerjakan PR. Siswa tersebut kemudian diminta menyelesaikan PR di luar kelas sebelum diperbolehkan mengikuti pembelajaran.
“Waktu ditegur, dia malah balik berkata kasar kepada saya,” ujar R.
R kemudian meminta siswa membuat surat pernyataan dan meminta orang tuanya menandatangani surat tersebut. Pada Sabtu (29/8/2026), persoalan kembali terjadi karena siswa tersebut disebut kembali tidak mengerjakan PR. Menurut R, siswa kembali diminta mengerjakan tugas di luar kelas dan membuat surat pernyataan untuk ditandatangani orang tua.
Berujung Saling Meminta Siswa Keluar Kelas
Persoalan kemudian berlanjut saat pembelajaran pada Senin (31/8/2026). R mengatakan dirinya meminta anak SD yang berada di kelas V keluar dari kelas karena menurutnya masih ada persoalan yang belum diselesaikan.
“Saya berharap mereka mau meminta maaf dahulu, karena persoalannya ada beberapa, termasuk persoalan anaknya, adiknya, dan kejadian sebelumnya,” kata R.
Menurut R, kepala sekolah kemudian memberikan solusi agar persoalan diselesaikan secara pribadi dengan meminta maaf kepadanya. Namun, R menyebut SD menolak permintaan tersebut.
Setelah itu, menurut R, SD mendatangi kelas yang diajarnya dan meminta anak R keluar dari kelas. R kemudian mendatangi kelas tersebut dan menanyakan alasan anaknya diminta keluar.
“Saya jelaskan semuanya, tapi ibu tersebut tetap tidak menerima,” ujar R.
Peristiwa saling meminta siswa keluar dari kelas tersebut kemudian terekam video dan beredar di media sosial hingga menjadi perhatian publik.















