Lebih jauh lagi, pelemahan rupiah dan kenaikan harga juga berpengaruh terhadap ketahanan keluarga. Ketika pengeluaran terus meningkat sementara pendapatan tetap, tekanan psikologis rumah tangga ikut bertambah. Perselisihan karena masalah ekonomi meningkat, kemampuan membiayai pendidikan anak menurun, dan kualitas hidup secara keseluruhan ikut terpengaruh. arena itu, persoalan nilai tukar sebenarnya tidak hanya soal pasar keuangan, tetapi juga soal kesejahteraan sosial.
Namun penting pula dipahami bahwa pelemahan rupiah tidak selalu berarti ekonomi berada dalam kondisi buruk. Nilai tukar dipengaruhi banyak faktor global, mulai dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat, konflik geopolitik, harga komoditas dunia, hingga pergerakan modal internasional. Yang menjadi persoalan adalah ketika pelemahan tersebut berlangsung cukup lama sehingga memicu kenaikan harga yang terus-menerus dan menggerus daya beli masyarakat.
Karena itu, ukuran keberhasilan ekonomi tidak cukup hanya melihat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), investasi, atau cadangan devisa. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat masih mampu membeli kebutuhan pokoknya, masih bisa menyekolahkan anak-anaknya, dan masih memiliki ruang untuk menabung demi masa depan.
Pada akhirnya, ketahanan ekonomi sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh kuat atau lemahnya mata uangnya. Ketahanan ekonomi sesungguhnya terlihat dari kemampuan rakyat bertahan menghadapi kenaikan biaya hidup tanpa kehilangan harapan untuk hidup lebih baik.
Sebab bagi keluarga menengah ke bawah, yang paling terasa bukanlah angka kurs dolar di layar monitor. Yang paling terasa adalah harga beras di pasar, biaya sekolah anak, ongkos transportasi, dan isi dompet yang terasa semakin cepat kosong setiap akhir bulan.










