Kabarminang – Rencana reaktivasi jalur kereta api Kayu Tanam–Padang Panjang sepanjang 15,3 kilometer di Sumatera Barat ditargetkan mulai 2027. Namun, rencana tersebut menghadapi tantangan berupa sekitar 6.800 bangunan yang berpotensi mengganggu ruang bebas jalur kereta api.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, menyampaikan hal itu dalam kegiatan Pencanangan Reaktivasi Jalur Kereta Api di Sumatera Barat di Stasiun Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Selasa (27/10/2026).
Bobby mengatakan, reaktivasi jalur kereta api di Sumatera Barat akan dilakukan secara bertahap. Tahap awal dimulai dari lintas Kayu Tanam–Padang Panjang, kemudian dilanjutkan ke Solok dan Sawahlunto.
Jalur Kayu Tanam–Padang Panjang sepanjang 15,3 kilometer direncanakan menggunakan rel bergerigi yang disesuaikan dengan kondisi geografis Sumatera Barat.
Menurut Bobby, keberadaan ribuan bangunan di sekitar jalur rel menjadi salah satu persoalan yang perlu ditangani sebelum reaktivasi dilaksanakan. Berdasarkan identifikasi PT KAI, sekitar 6.800 bangunan berpotensi mengganggu ruang bebas jalur kereta api.
Karena itu, PT KAI meminta dukungan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sumatera Barat untuk menyosialisasikan penataan kawasan kepada masyarakat.
“Kami mohon bantuan Forkopimda untuk sama-sama melakukan sosialisasi agar tidak ada bangunan-bangunan di sekitar rel kereta api,” ujar Bobby.
Ia menjelaskan, operasional kereta api membutuhkan ruang bebas di sisi kanan dan kiri rel untuk menjamin keselamatan perjalanan. Selain bangunan, kondisi geografis Sumatera Barat yang berbukit serta potensi bencana alam juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam proses reaktivasi.




















