Faktor lain yang berpengaruh, menurut Bayu, ialah faktor keluarga. Ia mengatakan bahwa minimnya komunikasi terbuka di rumah dapat mendorong anak mencari validasi dari luar, termasuk melalui interaksi daring yang berisiko.
Terkait dengan kondisi korban yang kini hamil lima bulan, Bayu menekankan pentingnya intervensi psikologis segera untuk mencegah trauma kompleks. Menurutnya, langkah awal ialah stabilisasi emosi melalui pendekatan psychological first aid, yakni memastikan korban merasa aman, mengurangi kecemasan akut, dan menghindari interogasi berlebihan.
Selanjutnya, kata Bayu, perlu dilakukan asesmen risiko seperti skrining depresi, ide bunuh diri, serta potensi gangguan stres pascatrauma. Ia menyebut bahwa latihan regulasi emosi, teknik pernapasan, dan edukasi tentang respons trauma juga penting diberikan.
Bayu menyampaikan bahwa pendampingan harus bersifat multidisiplin, melibatkan psikolog klinis, dokter kandungan, pekerja sosial, serta aparat penegak hukum yang ramah anak.
“Target utamanya adalah korban merasa aman, tidak disalahkan, dan emosinya stabil,” ucapnya.
Dalam mempersiapkan mental korban untuk menghadapi kehamilan dan persalinan di usia dini, Bayu menyarankan pendekatan bertahap. Menurutnya, psikolog perlu membantu korban menerima kondisi tanpa rasa bersalah berlebihan, memberikan edukasi mengenai perubahan fisik dan hormonal selama kehamilan, serta mempersiapkan pemahaman tentang proses persalinan dan perawatan bayi.
“Remaja sering merasa hidupnya hancur dan tidak punya masa depan. Di sinilah pentingnya penguatan bahwa kehamilan bukan akhir kehidupan. Masa depan tetap bisa dibangun,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan keluarga dan perencanaan pendidikan lanjutan agar korban tetap memiliki harapan dan arah hidup yang jelas.














