Dari sisi produksi gabah, BPS memperkirakan total produksi Gabah Kering Panen (GKP) sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 1.264.468 ton. Sementara itu, potensi produksi pada Oktober hingga Desember diperkirakan sebanyak 362.511 ton.
“Produksi GKP bulanan tertinggi terjadi pada bulan Februari sebesar 195.393 ton dan produksi terendah tercatat pada bulan Juli sebesar 80.414 ton,” ujar Hasanudin.
Sementara itu, produksi GKG pada Januari hingga September 2026 tercatat sebanyak 1.098.307 ton. Jumlah tersebut ditambah potensi produksi pada kuartal terakhir sebesar 314.874 ton GKG.
Kabupaten Solok, Pesisir Selatan, dan Tanah Datar kembali menjadi tiga daerah dengan produksi GKG tertinggi di Sumbar. Sebaliknya, produksi terendah tercatat di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kota Bukittinggi, dan Kota Padang Panjang karena keterbatasan lahan pertanian.
Jika dikonversikan menjadi beras, produksi pada Januari hingga September 2026 setara dengan 635.944 ton. Adapun potensi produksi beras pada tiga bulan terakhir tahun ini diperkirakan mencapai 182.319 ton.
“Produksi beras bulanan tertinggi pada tahun 2026 juga terjadi pada bulan Februari sebesar 98.270 ton dan terendah pada bulan Juli sebesar 40.443 ton,” ucap Hasanudin.
Ia menjelaskan, penghitungan produksi padi dilakukan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA) berbasis Android yang diterapkan sejak 2018. Metode tersebut digunakan untuk mengukur luas panen secara objektif melalui pengamatan fase pertumbuhan tanaman pada segmen lahan berukuran 300 x 300 meter.
Selain itu, penghitungan produktivitas per hektare dilakukan melalui Survei Ubinan dengan sampel yang ditentukan berdasarkan KSA. Metode tersebut diterapkan untuk meminimalkan risiko kesalahan dalam pendataan lapangan.





















