Kabarminang- Komoditas minyak atsiri dan kopi menjadi sektor yang mencatatkan penguatan nilai jual di pasar internasional sepanjang Juli hingga September 2026. Di sisi lain, harga karet di tingkat petani Sumatera Barat juga mengalami kenaikan hingga mendekati Rp20.000 per kilogram.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumatera Barat, Novrial, mengatakan pergerakan harga komoditas ekspor daerah dipengaruhi oleh permintaan pasar internasional, kondisi ekonomi global, serta kebijakan perdagangan negara tujuan.
Salah satu komoditas yang memiliki nilai jual tinggi adalah minyak atsiri, yang mencakup minyak nilam, minyak cendana, dan minyak pala. Komoditas aromatik tersebut dibutuhkan oleh industri parfum dan farmasi di berbagai negara.
“Komoditas aromatik non-konvensional seperti minyak nilam, minyak cendana, dan minyak pala mengalami peningkatan permintaan di pasar global yang didorong oleh kebutuhan industri parfum dan farmasi internasional,” ujar Novrial kepada Sumbarkita, Senin (26/10/2026).
Menurut Novrial, tingginya nilai ekonomi minyak atsiri berpotensi meningkatkan pendapatan petani yang mengusahakan komoditas tersebut. Harga jual yang tinggi di pasar internasional menjadi salah satu faktor pendukung keuntungan petani.
“Kondisi ini tentu mendongkrak keuntungan petani di daerah karena tingginya nilai ekonomi per kilogramnya di pasaran internasional,” ucapnya.
Di sektor perkebunan, kopi juga menunjukkan perkembangan positif. Novrial menyebut harga kopi Robusta mengalami lonjakan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya. Selain itu, kopi Liberika turut memperluas jenis komoditas perkebunan Sumbar yang masuk dalam daftar ekspor.
“Kopi Robusta melonjak signifikan dari bulan sebelumnya, dan kita juga mencatat hadirnya Kopi Liberika yang memperkuat portofolio ekspor perkebunan kita,” ujar Novrial.




















