Kabarminang – Sumatera Barat (Sumbar) tercatat sebagai provinsi penghasil jengkol terbesar kedua di Indonesia dengan total produksi mencapai 21.168,60 ton pada 2025. Hal tersebut berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS).
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumatera Barat, Novrial, mengatakan produksi jengkol tersebut menjadi salah satu penopang pasokan komoditas untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
“Berdasarkan data BPS, pada 2025 jumlah produksi jengkol di Sumatera Barat mencapai 21 ribu ton. Kita berada di bawah Provinsi Lampung yang menempati urutan pertama secara nasional dengan total produksi 22.901,75 ton,” ujarnya kepada Sumbarkita, Senin (26/10/2026).
Ia merinci, Provinsi Aceh menempati posisi ketiga secara nasional dengan produksi 19.114,44 ton. Selanjutnya, Jawa Barat berada di urutan keempat dengan produksi 18.545,40 ton, disusul Jawa Tengah di peringkat kelima dengan 13.836,95 ton.
Kemudian, Banten menempati peringkat keenam dengan produksi 13.295,71 ton. Posisi berikutnya ditempati Sumatera Utara dengan 11.457,21 ton dan Kalimantan Barat dengan 10.937,05 ton. Sementara itu, Jambi berada di urutan kesembilan dengan produksi 9.113,75 ton, sedangkan Sumatera Selatan menempati peringkat ke-10 dengan produksi 8.069,92 ton.
Novrial menjelaskan, produksi jengkol di Sumatera Barat bertumpu pada dua wilayah sentra utama, yakni Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kabupaten Pasaman. Ia menyebut, hasil panen tersebut selama ini didistribusikan untuk memenuhi permintaan pasar domestik di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), termasuk Pasar Induk Kramat Jati.
Selain memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, komoditas jengkol asal Sumatera Barat juga mulai memperluas pasar hingga Jepang. Pengiriman tersebut dilakukan oleh korporasi swasta maupun pelaku usaha individu lokal.
“Pasar Jepang mulai rutin menerima pasokan jengkol kita dengan volume pengiriman berkisar dua hingga tiga ton dalam sekali pengiriman,” ujarnya.





















