Kabarminang — Pengamat menilai bahwa pemadaman listrik massal (blackout) yang melumpuhkan berbagai wilayah di Sumatera pada 22–23 Mei 2026 membuktikan bahwa struktur jaringan energi saat ini terlalu terpusat dan memiliki kerentanan sistemik yang sangat tinggi. Menurut pengamat, gangguan transmisi itu tidak hanya mematikan lampu, tetapi juga melumpuhkan fasilitas digital dan aktivitas harian masyarakat.
Hal itu dikatakan oleh praktisi Geographic Information System Sumatera Barat (Sumbar), Timtim Deby Purnasebta. Ia mengatakan bahwa insiden itu merupakan alarm keras bagi rapuhnya ketahanan infrastruktur regional.
“Blackout ini bukan sekadar gangguan teknis kelistrikan biasa, melainkan sebuah alarm tentang rapuhnya ketahanan infrastruktur regional yang menopang kehidupan modern kita,” ujar Timtim pada Senin (25/5/2026).
Timtim menjelaskan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah mengidentifikasi pusat masalah berada pada jaringan transmisi tegangan tinggi 275 kV Muaro Bungo (Jambi) – Sungai Rumbai (Dharmasraya, Sumbar). Ia menyebut bahwa dalam sistem interkoneksi modern, gangguan di satu simpul vital seperti jalur Muaro Bungo-Sungai Rumbai itu langsung memicu ketidakstabilan frekuensi, sehingga pembangkit lain otomatis lepas jaringan demi melindungi system.
Timtim mengibaratkan sistem energi modern saat ini bekerja menyerupai jaringan saraf manusia yang sangat sensitif.
“Sistem energi kita bekerja seperti jaringan saraf tubuh. Terlihat stabil, tetapi jika satu simpul utama terganggu, efek kegagalan berantainya (cascading failure) akan menjalar sangat cepat ke wilayah lain,” ucap Timtim.
Dalam analisisnya, Timtim menyoroti fenomena interdependensi sistem kritis bahwa ruang publik perkotaan modern saat ini sudah terlalu bergantung pada pasokan listrik. Saat listrik padam beberapa jam saja, katanya, yang lumpuh total bukan sekadar aliran energi, melainkan juga ritme kehidupan wilayah tersebut karena semua sistem dari internet, perbankan, hingga SPBU saling bertumpu pada listrik.
Timtim juga mengkritik kebijakan pembangunan infrastruktur energi selama ini yang dinilai masih lebih mengutamakan efisiensi biaya dibanding ketahanan jaringan jangka panjang.
















