“Sayangnya, kita terlalu sibuk memperluas konektivitas demi efisiensi distribusi, tetapi belum cukup serius membangun sistem cadangan ketika konektivitas utama itu gagal bekerja,” ucap Timtim.
Padahal, menurut analisis geospasialnya, kata Timtim, bentang alam geografis wilayah Sumatera sangat ekstrem dan dipenuhi potensi ancaman bencana alam. Ia mengatakan bahwa Sumatera memiliki bentang geografis yang kompleks. Karena itu, katanya, jalur transmisi dipaksa melintasi Pegunungan Bukit Barisan, kawasan rawan longsor, hingga patahan aktif Semangko yang rentan cuaca ekstrem.
“Tantangan ini terlihat jelas di Sumbar yang didominasi oleh topografi curam dan pola permukiman warga yang terfragmentasi di lembah maupun pesisir. Di Sumbar, distribusi energi akhirnya harus menjangkau wilayah yang secara spasial terfragmentasi dan memiliki tantangan topografi yang tidak sederhana,” tutur Timtim.
Sebenarnya, kata Timtim, Sumbar memiliki modal besar berupa potensi energi lokal yang tersebar secara spasial. Ia menyampaikan bahwa Sumbar punya PLTA Singkarak dan Maninjau, serta potensi energi gelombang laut di pesisir barat, mikrohidro di pegunungan, hingga energi surya yang seharusnya bisa menjadi kekuatan wilayah.
Timtim menyarankan kepada pemerintah untuk segera beralih menerapkan konsep sistem energi terdistribusi. Menurutnya, konsep sangat penting karena makin tersebar pusat energinya, makin kecil risiko wilayah mengalami lumpuh total ketika satu titik mengalami gangguan.
Ia mendesak adanya evaluasi total terhadap tata kelola infrastruktur energi nasional agar perencanaan jalur distribusi ke depan wajib mempertimbangkan faktor keamanan spasial jangka panjang.
“Ketahanan energi tidak boleh hanya diukur dari kapasitas pembangkit atau dibangun berdasarkan jalur,” ucapnya.
















