Kabarminang – Harapan baru datang bagi petani di Kabupaten Padang Pariaman setelah pemerintah daerah berhasil mengamankan bantuan anggaran sebesar Rp12,5 miliar dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk pemulihan sektor pertanian pascabencana.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Padang Pariaman, Hendri Satria mengatakan dana tersebut diperoleh melalui serangkaian koordinasi dan lobi pemerintah kabupaten ke pemerintah pusat, di tengah kebijakan efisiensi anggaran nasional yang masih berlangsung.
Bantuan ini disalurkan melalui Satuan Kerja (Satker) XIII Provinsi Sumatera Barat dan difokuskan pada pemulihan lahan pertanian yang rusak akibat bencana hidrometeorologi.
Dia menyebut anggaran tersebut akan digunakan untuk sejumlah program strategis yang menyasar langsung kelompok tani di berbagai wilayah terdampak.
“Ini menjadi angin segar bagi petani kita. Upaya pemerintah daerah untuk mencari dukungan pusat akhirnya membuahkan hasil, dan kami berkomitmen memastikan pelaksanaannya tepat sasaran,” ujarnya, Sabtu (28/2).
Program pemulihan ini mencakup enam kegiatan utama, mulai dari optimasi lahan sawah hingga pembangunan infrastruktur pengairan. Secara keseluruhan, intervensi dilakukan di 17 kecamatan melalui dua skema besar, yakni optimasi lahan terdampak bencana dan rehabilitasi lahan rusak sedang.
Pada program Optimasi Lahan (OPLA) Bencana, sebanyak 18 kelompok tani di sembilan kecamatan dengan luas total 446 hektare telah ditetapkan sebagai penerima manfaat. Kegiatan difokuskan pada pengerukan endapan sedimen banjir setebal 10 hingga 30 sentimeter serta perbaikan jaringan irigasi tersier agar lahan kembali dapat ditanami.
Sementara itu, untuk kategori rehabilitasi lahan dengan tingkat kerusakan sedang, bantuan diberikan kepada 17 kelompok tani dengan luas lahan mencapai 198 hektare. Lahan pada kategori ini mengalami timbunan sedimen lebih tebal, berkisar antara 30 hingga 100 sentimeter.
Selain pemulihan lahan, pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk pembangunan infrastruktur pendukung pengairan, seperti dam parit, irigasi perpompaan, dan sistem irigasi perpipaan guna menjamin ketersediaan air bagi petani sepanjang musim tanam.
Hendri menyebutkan, pelaksanaan optimasi lahan ditargetkan mulai berjalan pada awal Maret 2026. Sedangkan rehabilitasi lahan rusak sedang beserta pembangunan jaringan irigasi direncanakan dimulai setelah Idulfitri.
Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, menegaskan bahwa program tersebut merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam memulihkan ekonomi masyarakat, khususnya petani yang terdampak bencana.
Menurutnya, lahan pertanian yang sebelumnya tidak produktif diharapkan segera kembali dimanfaatkan. Bahkan, apabila kondisi sawah belum memungkinkan untuk ditanami padi, petani didorong menanam komoditas alternatif seperti jagung agar aktivitas ekonomi tetap berjalan.
“Pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Padang Pariaman. Karena itu, pemulihan lahan harus dipercepat agar petani bisa kembali berproduksi,” katanya.
Dengan mulai bergulirnya program ini, pemerintah daerah berharap ribuan hektare lahan pertanian yang sempat terhenti produksinya dapat kembali hijau dan menopang ketahanan pangan daerah.















