“Dulu dalam sehari cuma bisa produksi sekitar 20 potong roti karena menggunakan oven tangkring. Memproduksi 20 potong roti dengan oven itu bisa makan waktu sampai empat jam karena panasnya tidak merata,” tutur Bayu.
Seiring dengan peningkatan peralatan dan kapasitas produksi, Bayu mampu memproduksi sekitar 50 hingga 100 potong roti hanya dalam waktu dua jam. Namun, ia tidak memproduksi roti setiap jam, tetapi hanya membuat roti jika ada pesanan.
Soal harga, Bayu menjual roti manis dengan kisaran Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per potong. Namun, ia memasarkan beberapa produk tertentu seharga Rp15 ribu hingga Rp20 ribu, antara lain cranberry soft sourdough, choco cheese sourdough, dan salt bread.
Menurut Bayu, harga produk bersifat relatif dan dapat berubah mengikuti kondisi harga bahan baku. Ia membeberkan bahwa salah satu tantangan terbesar saat ini ialah kenaikan harga bahan, terutama cokelat.
“Sekarang harga coklat naik drastis. Biasanya sekitar Rp200 ribu per kilogram, sekarang bisa sampai Rp 300 ribu. Mau tidak mau kami harus menyesuaikan harga,” ujar pria yang sudah diwisuda pada awal 2025 itu.
Bayu memilih untuk menaikkan harga dibandingkan dengan mengganti bahan baku dengan kualitas yang lebih rendah atau mengurangi porsi produk. Kalau diganti dengan cokelat lain, kata Bayu, mutu produk pasti turun.
“Kami juga tidak mau mengurangi porsi. Kadang-kadang ada konsumen yang mengeluh harga naik, tapi pasti kami jelaskan bahwa bahan baku memang sedang naik,” ucapnya.
Kini roti yang diproduksi Bayu telah dipasarkan melalui sejumlah mitra, di antaranya UNP Mart dan Qta-Mart di RS Siti Rahmah. Produk yang dititipkan secara rutin meliputi cake slice, bolu gulung slice, dan soft cookies, sementara produk lainnya dipasarkan dengan sistem preorder. Selain itu, ia membuka gerai di pinggir jalan kalau ada bazar atau kegiatan hari bebas kendaraan bermotor.
















