Kabarminang – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan tetap dilanjutkan karena mendapat dukungan luas dari peserta didik di seluruh Indonesia. Namun, pemerintah akan melakukan sejumlah penyesuaian dalam pelaksanaannya agar lebih tepat sasaran dan efisien.
Ia menyebutkan sekitar 43,4 juta siswa atau 80,94 persen dari total 53,5 juta murid di Indonesia telah menerima manfaat program tersebut. Data penerima MBG juga telah terintegrasi dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sehingga pemerintah memiliki basis data yang lengkap dan terverifikasi.
“Sebagian besar murid mengharapkan program ini tetap dilanjutkan,” kata Mu’ti saat kunjungan kerja di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dikutip, Sabtu (14/6).
Pemerintah, lanjutnya, akan melakukan evaluasi terhadap mekanisme penyaluran bantuan. Sekolah yang dinilai kurang membutuhkan dimungkinkan tidak lagi menjadi penerima MBG, sementara sekolah dengan tingkat kebutuhan lebih tinggi akan diprioritaskan.
Selain itu, pelaksanaan program tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pemerintah membuka peluang keterlibatan kantin sekolah sebagai penyedia makanan bergizi, dengan tetap berada di bawah koordinasi dan pengawasan Badan Gizi Nasional.
Terkait sejumlah kasus keracunan yang sempat terjadi, Mu’ti menegaskan hal tersebut tidak akan menghentikan program MBG secara keseluruhan. Pemerintah akan mengevaluasi dapur penyedia makanan yang bermasalah, bahkan mencabut izin operasional jika tidak memenuhi standar.
“Kalau ada keracunan, yang dihentikan adalah dapur yang tidak benar untuk dievaluasi, sedangkan yang sesuai standar tetap berjalan,” ujarnya.
Ia menambahkan, program MBG merupakan bagian penting dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia, baik dari sisi akademik maupun kesehatan melalui pemenuhan gizi yang memadai.
















