Kini beasiswa pendidikan telah berada di tangannya. Yang tersisa ialah bagaimana Tiara bisa sampai ke Mesir.
Dibesarkan kakek dan nenek
Di balik mimpi besar Tiara untuk belajar di Mesir, ada kehidupan sederhana yang ia jalani di Malampah. Tiara tinggal bersama kakek dan neneknya. Keduanya menjadi tempat Tiara bertumbuh sejak berusia sepuluh tahun.
Kakeknya yang berusia sekitar 60 tahun dan neneknya yang berusia sekitar 50-an tahun bekerja sebagai petani. Dari pagi hingga sore keduanya menghabiskan waktu di kebun untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Berangkat dari pagi sampai sore, kak. Enggak ada hari liburnya,” kata Tiara.
Kebun itu menjadi salah satu sumber penghidupan keluarga. Cabai dan jagung ditanam untuk menjadi bagian dari pendapatan mereka.
Tiara pun tidak hanya menjadi penonton ketika berada di rumah. Sesekali ia ikut membantu pekerjaan di rumah dan di kebun.
Penghasilan kakek dan neneknya sekitar Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan. Penghasilan tersebut harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan Tiara dan dua adiknya.
Adiknya yang berusia 15 tahun masih menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam Pinaga. Sementara itu, adiknya yang berusia 10 tahun masih duduk di sekolah dasar.
















