Hal tersebut turut dirasakan Hendra (45), petani kopi asal Nagari Surian, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Solok. Ia mengaku rutin memasok sekitar 50 kilogram kopi setiap bulan kepada Kopi Lolo.
“Kehadiran Kopi Lolo sangat membantu petani. Setidaknya sekarang kami memiliki pembeli tetap untuk sebagian hasil panen, sehingga tidak lagi sepenuhnya bergantung kepada tengkulak,” ujar Hendra, Jumat (10/7/2026).
Selain dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, Kopi Lolo telah dibawa oleh pelanggan hingga Belanda, Singapura, dan Malaysia. Namun, penjualan ke luar negeri tersebut masih dilakukan melalui pembelian langsung oleh konsumen dan belum melalui mekanisme ekspor secara resmi.
Kopi Lolo juga menjadi pemasok tetap bagi Mitra Resort di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, dengan volume pemesanan sekitar 50 hingga 70 kilogram kopi setiap bulan.
Di balik perkembangannya, Wahyu mengaku usahanya hingga kini belum pernah menerima bantuan permodalan maupun program pengembangan usaha. Meski demikian, ia tetap aktif mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan pemerintah. Bahkan, Kopi Lolo pernah meraih peringkat pertama dalam pelatihan kemasan produk kopi.
“Saya berharap ada dukungan yang lebih nyata bagi UMKM, baik berupa pembinaan yang berkelanjutan, bantuan peralatan produksi, maupun akses pemasaran agar kopi lokal semakin berkembang,” katanya.
Ke depan, Wahyu menargetkan Kopi Lolo menjadi produk unggulan Kabupaten Solok yang mampu menyerap lebih banyak hasil panen petani, membuka lapangan pekerjaan, membuka cabang dan gerai penjualan, serta menembus pasar ekspor secara resmi.
“Mimpi saya sederhana, yaitu menjadikan Kopi Lolo sebagai produk unggulan Kabupaten Solok. Saya ingin usaha ini terus berkembang agar semakin banyak hasil panen petani yang bisa kami serap. Harapannya, petani tidak lagi kesulitan menjual kopi mereka dan suatu hari nanti Kopi Lolo bisa diekspor secara resmi,” tutup Wahyu. (Muhammad Okta Ilvan)
















