“Saya sengaja membagikan kopi secara gratis agar masyarakat bisa mencicipi kualitasnya. Sekaligus saya meminta masukan supaya rasa dan kualitas produk terus diperbaiki,” tuturnya.
Respons masyarakat di luar dugaan. Banyak warga menilai cita rasa Kopi Lolo tidak kalah dengan kopi dari daerah lain. Berbekal promosi dari mulut ke mulut serta bantuan teman dan kerabat di berbagai daerah, termasuk Pulau Jawa, Kopi Lolo mulai dikenal. Dalam waktu sekitar dua bulan sejak dipasarkan, omzet usahanya mencapai sekitar Rp7 juta per bulan.
Namun, pandemi Covid-19 sempat membuat penjualan merosot. Omzet Kopi Lolo turun menjadi sekitar Rp2 juta hingga Rp2,5 juta per bulan. Kondisi tersebut tidak membuat Wahyu menyerah. Ia terus memasarkan produknya melalui media sosial, termasuk TikTok, serta menitipkannya di sejumlah toko oleh-oleh.
“Saya percaya usaha ini punya masa depan. Karena itu, meskipun penjualan turun, saya tetap berusaha mempromosikan Kopi Lolo melalui media sosial dan menitipkannya ke toko oleh-oleh,” ujarnya.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Memasuki akhir 2023, penjualan kembali meningkat dan bertahan hingga kini. Saat ini, Kopi Lolo memproduksi sekitar 300 kilogram kopi per bulan dengan omzet berkisar Rp8 juta hingga Rp10 juta per bulan.
Seluruh proses produksi masih dikerjakan sendiri oleh Wahyu tanpa mempekerjakan karyawan. Ia membeli bahan baku dari petani di Nagari Lolo dan Nagari Surian, baik dalam bentuk biji kopi yang telah dijemur maupun buah kopi segar.
Buah kopi segar tersebut kemudian diolah secara mandiri mulai dari pengupasan, pencucian, penjemuran, penyortiran, penyangraian, penggilingan, hingga pengemasan sebelum dipasarkan.
Menurut Wahyu, keberadaan Kopi Lolo tidak hanya bertujuan mengembangkan usaha, tetapi juga membuka pasar bagi hasil panen petani di kampung halamannya.
















