Ia menyebutkan, pendataan yang dilakukan pihak kecamatan langsung ke sekolah mencatat jumlah korban yang terdampak mencapai 388 orang.
“Berdasarkan pendataan pihak kecamatan ke lokasi sekolah langsung itu kami mendata ada 388 korban yang terdampak, adanya perbedaan data dari pihak dinas kesehatan itu karena data dari dinas kesehatan berdasarkan pasien yang berobat ke puskesmas Palupuah, sedangkan data dari pihak sekolah tidak semuanya yang berobat ke Puskesmas Palupuah,” tuturnya.
Menurut Indra Jaya, pasien yang berobat ke Puskesmas Palupuah hanya menjalani pengobatan dan tidak menjalani rawat inap. Namun, sekitar empat orang tercatat kembali berobat ke puskesmas karena masih merasakan sakit.
“Mengulang berobat ke puskesmas itu karena masih terasa sakit belum ada angsuran, sedangkan yang dirujuk dan dirawat di tiga rumah sakit yang ada di Bukittinggi itu masih sama dengan yang kemaren, kondisinya sekarang itu merasakan dehidrasi,” tuturnya.
Ia mengatakan, sampel yang diperiksa BPOM Padang hanya berupa muntahan dan feses korban. Sementara itu, makanan yang dikonsumsi korban sudah tidak tersedia untuk dijadikan sampel.
“Untuk hasil pemeriksaan laboratorium berdasarkan informasi yang diterimanya dari Bupati sekitar satu Minggu baru keluar,” ujarnya.
Terkait pelaksanaan program MBG di sekolah, Indra Jaya menyebut kegiatan tersebut untuk sementara dihentikan berdasarkan instruksi Bupati Agam.
















