Kabarminang – Warga mengeluhkan aktivitas penambangan Galian C berupa pasir, batu andesit, tanah clay atau tanah liat, dan pembalakan liar di kawasan Gunung Sariak, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, karena memicu kerusakan lingkungan serta mengakibatkan hilangnya mata pencaharian masyarakat.
Keluhan itu disampaikan warga yang tergabung dalam kelompok perempuan Kelurahan Gunung Sariak saat menggelar pertemuan bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatra Barat di Bukit Ace, Gunung Sariak, Kuranji, pada Kamis (3/9/2026).
Perwakilan Koperasi Gunung Sariak, Moni, mengatakan aktivitas pengerukan tanah dan pembalakan liar telah merusak bentang alam secara masif serta memicu bencana bagi permukiman warga di bagian hilir sungai.
“Dampak kerusakan fisik akibat tambang dan bencana membentang luas, mulai dari kawasan Gunung Sariak hingga daerah Basko City Mall. Rumah-rumah warga di sepanjang aliran sungai banyak yang hanyut dan roboh ketika bencana pada rentetan akhir 2025 kemarin, bahkan jembatan penyeberangan ikut rusak,” ujarnya.
Ia mengatakan, akibat tambang itu, air yang sebelumnya dimanfaatkan masyarakat kini berubah menjadi keruh dan berlumpur setiap kali hujan deras, sementara beberapa sumber air mengalami kekeringan total.
Kondisi serupa terjadi pada mata air utama masyarakat, Pancuran Lapau Munggu. Moni mengatakan mata air yang selama ini menjadi tumpuan warga tersebut kini hilang setelah tertimbun material tanah hasil penggalian.
“Mata air di gunung, seperti mata air Pancuran Lapau Munggu yang menjadi tumpuan warga selama ini, lenyap tertutup tanah akibat penggalian di lahan,” ujarnya.
Anggota kelompok perempuan lainnya, Imel, mengatakan bahwa puluhan hektare sawah dan ladang warga kini tidak dapat digarap lagi.















