Tiga pasien yang dirawat di RSUD Bukittinggi terdiri atas seorang balita berusia 4 tahun dari Jorong Sintingkai, seorang pelajar berusia 14 tahun dari Palimbatan, serta seorang laki-laki berusia 17 tahun dari Mudik Palupuah yang tercatat sebagai penyandang kebutuhan khusus.
Sementara itu, seorang balita berusia 2 tahun 4 bulan dari Sungai Guntung menjalani perawatan di RSAM. Adapun seorang balita perempuan berusia 3 tahun dari Muaro dirawat di RST.
Berdasarkan data perawatan, dua pasien di RSUD Bukittinggi merupakan perempuan dan satu pasien laki-laki. Pasien yang dirawat di RSAM berjenis kelamin laki-laki, sedangkan pasien di RST merupakan perempuan.
Hendri mengatakan, pelajar menjadi kelompok yang paling banyak tercatat dalam kasus dugaan keracunan pangan tersebut.
Namun, hingga saat ini belum ada keterangan resmi mengenai penyebab kejadian, jenis makanan yang diduga menjadi penyebab, gejala yang dialami korban, maupun hasil pemeriksaan laboratorium.
“Berdasarkan informasi yang diperoleh menu makanan terakhir itu telur puyuh, tempe, namun untuk sampel makanan yang dijadikan pemeriksaan itu tidak ada lagi karena menunya itu adanya di hari sebelum kejadian,” tuturnya.
Menurut Hendri, sampel yang diserahkan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Padang berupa muntahan dan feses korban.
Data Korban Berbeda
Di sisi lain, Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Kecamatan Palupuah Indra Jaya mengatakan, berdasarkan informasi yang diperolehnya, sejauh ini tidak ada penambahan korban.
















