Ia menjelaskan, berdasarkan kajian geologi hidraulik, dasar muara didominasi lapisan batuan karang keras. Kondisi tersebut membuat pengerukan konvensional dinilai kurang efektif sebagai solusi jangka panjang. Karena itu, pemerintah disarankan menyusun masterplan penanganan muara, termasuk mengkaji pembangunan jetty atau pemecah gelombang untuk mengurangi masuknya sedimen dari laut sekaligus memperlancar aliran sungai menuju samudra.
Selain itu, Prof. Mas Mera menilai pengerukan besar-besaran di sepanjang hilir sungai belum menjadi kebutuhan mendesak. Penanganan dinilai lebih efektif jika difokuskan pada titik-titik penyempitan alur sungai yang menjadi lokasi penumpukan sedimen baru. Ia juga mendorong penguatan sistem peringatan dini berbasis data curah hujan secara real time agar potensi banjir dapat diantisipasi lebih cepat.
Menurutnya, penanganan banjir di Kota Padang memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Pengendalian banjir tidak cukup dilakukan di satu titik, tetapi harus mencakup kawasan hulu, badan sungai, hingga muara sebagai satu sistem yang saling berkaitan.
Kajian tersebut menunjukkan bahwa banjir di Padang bukan semata-mata persoalan hujan ekstrem. Dibutuhkan perencanaan jangka panjang berbasis kajian ilmiah agar penanganan banjir tidak hanya menjadi solusi sementara, tetapi mampu mengurangi risiko bencana secara berkelanjutan di masa mendatang.














