Selain perantau dan pembeli daring, kata Gebi, pengendara yang melintas di Kabupaten Solok dan Solok Selatan membeli Kacang H. Arifin. Ia menyebut bahwa sebagian orang membeli produk tersebut untuk dikonsumsi maupun dibawa sebagai oleh-oleh.
Dari aktivitas penjualan itu, Gebi menyebut bahwa pendapatan usaha berada pada kisaran Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hari, tergantung kondisi dan jumlah pembeli.
Menurut Gebi, keberlangsungan usaha tidak terlepas dari kemampuan menjaga kualitas produk, dari bahan baku, proses produksi, kebersihan, pengemasan, penyimpanan sampai pemasaran.
Bagi keluarganya, kata Gebi, mempertahankan usaha Kacang H. Arifin bukan hanya menjaga sebuah produk makanan ringan, melainkan juga mempertahankan nama yang telah dikenal konsumen. Dengan demikian, ia berharap usaha tersebut tetap berjalan dan makin terkenal sebagai salah satu oleh-oleh dari Surian.
Dengan proses pengolahan yang khas, harga yang relatif terjangkau, serta pemasaran yang telah menjangkau konsumen di luar daerah, Kacang H. Arifin menjadi salah satu gambaran UMKM lokal yang berupaya mempertahankan produk tradisional sekaligus memperluas pasar di tengah perubahan pola konsumsi dan pemasaran.
















