Meski demikian, kata Gebi, pemenuhan bahan baku menjadi salah satu tantangan yang dihadapi usaha tersebut. Kebutuhan kacang tanah tidak seluruhnya dapat dipenuhi dari Surian. Karena itu, keluarganya membeli kacang tanah dari agen di Solok Selatan.
“Di sekitar Surian sekarang ketersediaan kacang tanah semakin terbatas. Sebagian petani memilih untuk menanam sayuran dan jagung sehingga kami mengambil bahan baku dari agen di Solok Selatan,” kata Gebi.
Gebi mengatakan bahwa ketersediaan bahan baku juga dipengaruhi musim panen dan tingkat permintaan. Kondisi tersebut, katanya, membuat pengadaan bahan baku menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan untuk menjaga kelancaran produksi.
Pada periode pendataan sebelumnya, kata Gebi, produksi Kacang H. Arifin mencapai sekitar 800 kilogram per bulan atau sekitar 15 karung bahan baku. Kini, katanya, produksi sekitar 1 hingga 2 ton per bulan, bergantung pada permintaan dan ketersediaan bahan baku.
Dari sisi harga, kata Gebi, produk Kacang H. Arifin tersedia dalam beberapa pilihan kemasan. Harganya dari Rp5.000 sampai Rp25.000, tergantung ukuran atau kemasannya.
Selain kacang goreng, kata Gebi, keluarganya menyediakan produk makanan lainnya, seperti kipang dan galamai, untuk melengkapi pilihan oleh-oleh bagi konsumen.
Pasar Kacang H. Arifin juga berkembang di luar wilayah Surian. Gebi mengatakan bahwa konsumen produknya berasal dari berbagai daerah, termasuk perantau yang membawa kacang tersebut sebagai buah tangan.
“Banyak perantau yang membawa Kacang H. Arifin sebagai oleh-oleh. Dari situ produk ini ikut dikenal di daerah lain, bahkan sampai ke luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, dan Jepang. Ada juga yang membeli produk melalui penjualan online,” ujarnya.
















