Kabarminang — Saat sebagian mahasiswa bisa langsung pulang, nongkrong, atau mengerjakan tugas bersama teman setelah kuliah, M. Amilurrizki (23 tahun), mahasiswa asal Payakumbuh, harus memikirkan jadwal kerja.
Mahasiswa semester 7 Program Studi Pendidikan Khusus Universitas Adzkia Padang itu menjalani dua aktivitas sekaligus. Sejak Juli 2024 ia bekerja di sebuah binatu (laundry) sebagai pengantar dan penjemput pakaian konsumen. Pekerjaan tersebut menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama berada di Padang, dari kos, makan, bensin, oli kendaraan, hingga kebutuhan sehari-hari.
“Kalau tidak kerja, tidak makan, atau tidak bisa bertahan hidup di Padang, mungkin juga tidak lanjut kuliah karena tidak ada biaya,” tutur Rizki kepada Kabarminang.com pada Sabtu (3/10/2026).
Dalam sehari, Rizki dapat mengantar dan menjemput pakaian sekitar 30 hingga 50 konsumen. Rutenya tersebar di sejumlah kawasan Padang, seperti Jati, Katib, Gunung Pangilun, Ampang, Andalas, Parak Karakah hingga Jalan Bypass arah Rumah Sakit Semen Padang.
Rute terjauh yang biasa ditempuhnya ialah Jalan Bypass. Untuk menyelesaikan pekerjaan, ia bisa bolak-balik sekitar tiga hingga empat kali sehari dengan membawa sekitar sepuluh pakaian konsumen dalam sekali perjalanan.
“Jam kerja normalnya sekitar sepuluh jam dengan sistem dua sif. Namun, jadwal tersebut harus menyesuaikan perkuliahan,” ujar Rizki.
Jika kuliah berlangsung sejak pagi hingga sore, Rizki masuk kerja pada sif sore setelah perkuliahan. Sebaliknya, kalau kuliah dimulai setelah zuhur, ia bekerja pada sif pagi mulai pukul 07.00 hingga satu jam sebelum jadwal kuliah.
Ketika jadwal kuliah dan kerja berdekatan, Rizki mengurangi jam kerja. Namun, hal itu berdampak terhadap penghasilannya. Penghasilan normalnya sekitar Rp1,5 juta per bulan. Namun, saat jadwal kuliah padat, pendapatannya berkisar Rp800 ribu hingga Rp1,2 juta.



















