Informasi tersebut, kata dia, tidak menjadi dasar dalam pelaksanaan operasi pencarian yang tetap dilakukan sesuai prosedur dan metode pencarian SAR.
Haikal dilaporkan hilang sejak Sabtu (4/7/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu, bocah tersebut diduga sedang bermain di luar rumah atau di area persawahan ketika kedua orang tuanya sedang memasak dan mencuci piring.
Setelah kedua orang tuanya selesai beraktivitas, Haikal sudah tidak berada di lokasi bermain. Keluarga bersama pemerintah nagari dan warga kemudian melakukan pencarian, namun korban tidak ditemukan sehingga peristiwa tersebut dilaporkan kepada tim SAR.
Novi mengatakan lokasi pasti hilangnya Haikal belum dapat dipastikan. Ia juga menjelaskan bahwa di sekitar rumah korban tidak terdapat aliran sungai.
“Untuk lokasi hilang belum bisa kita pastikan. Di dekat rumah korban tidak ada sungai. Sungai memang ada, tetapi lokasinya cukup jauh dan sudah berada di jorong yang berbeda,” katanya.
Dalam operasi pencarian tersebut, Pos SAR Pasaman mengerahkan berbagai peralatan, di antaranya rescue car double cabin, ambulans, perahu karet ringan (LCR) beserta mesin tempel, drone thermal, peralatan SAR air, perlengkapan medis, alat komunikasi, peralatan mountaineering, serta perlengkapan pendukung lainnya.
Operasi SAR melibatkan sembilan personel Pos SAR Pasaman, enam personel BPBD Pasaman, masing-masing satu personel Bhabinkamtibmas dan Babinsa, serta sekitar 40 orang dari unsur pemerintah nagari dan masyarakat.
Menurut Novi, salah satu kendala utama selama pencarian adalah tidak tersedianya jaringan telekomunikasi di lokasi. Meski demikian, kondisi cuaca selama operasi pada hari terakhir dilaporkan cerah berawan.
Hingga operasi SAR dihentikan pada Kamis sore, Haikal belum berhasil ditemukan.
















