Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas karet alam dengan spesifikasi TNSR 20. Novrial mengatakan harga karet di tingkat petani lokal, termasuk di Kabupaten Pasaman, mengalami peningkatan di tengah perubahan luas perkebunan karet secara global.
“Meskipun secara global perkebunan karet sempat meredup dan banyak petani yang mengalihkan lahannya di negara lain, harga karet di tingkat petani lokal seperti di Pasaman mengalami kenaikan signifikan,” kata Novrial.
Ia menyebut harga karet yang sebelumnya berada di bawah Rp10.000 per kilogram kini mendekati Rp20.000 per kilogram. Kenaikan tersebut dinilai memberikan dampak positif bagi petani di sentra produksi.
“Harga karet naik dari di bawah Rp10.000 per kilogram menjadi mendekati Rp20.000 per kilogram, yang tentu sangat menggembirakan para petani karet kita,” tuturnya.
Di luar komoditas perkebunan, produk olahan kimia seperti gliserol menunjukkan pola transaksi ekspor yang fluktuatif. Novrial menjelaskan, perubahan volume pengiriman produk tersebut berkaitan dengan siklus pemesanan industri manufaktur di luar negeri.
“Transaksi ekspor produk turunan kimia seperti gliserol tercatat fluktuatif dan pernah menyumbang jutaan dolar lalu mengalami jeda pengiriman,” ujar Novrial.
Ia menegaskan, perubahan transaksi tersebut bukan disebabkan oleh penurunan kualitas produksi dalam negeri. Menurutnya, pemesanan gliserol mengikuti kebutuhan industri di negara tujuan, termasuk menjelang musim dingin di Eropa dan Amerika.
“Hal ini bukan karena penurunan kualitas, melainkan pola pemesanan industri luar negeri yang bersifat musiman menjelang musim dingin di Eropa dan Amerika,” jelasnya.




















