Kabarminang – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Hingga pukul 11.30 WIB, kurs USD/IDR tercatat berada di level Rp18.167,80 per dolar AS berdasarkan data Google Finance.
Meski turun tipis dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level Rp18.188 per dolar AS, pergerakan tersebut belum mampu mengangkat rupiah keluar dari zona pelemahan. Mata uang Garuda masih bertahan di atas level psikologis Rp18.100 per dolar AS.
Grafik perdagangan menunjukkan dolar AS sempat melonjak mendekati Rp18.330 pada awal sesi sebelum berangsur turun dan bergerak stabil di kisaran Rp18.150 hingga Rp18.180 per dolar AS.
Posisi tersebut menandakan dolar AS masih sangat kuat terhadap rupiah. Dalam beberapa hari terakhir, mata uang Amerika Serikat itu terus bergerak di level yang jarang terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar karena nilai tukar merupakan salah satu indikator penting yang memengaruhi biaya impor, harga bahan baku industri, hingga tekanan inflasi di dalam negeri.
Bagi sektor usaha yang bergantung pada barang impor, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi. Sementara bagi masyarakat, kondisi tersebut dapat berdampak pada kenaikan harga sejumlah produk yang menggunakan komponen impor.
Di sisi lain, kurs dolar yang tinggi memberikan keuntungan bagi eksportir karena penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih besar ketika dikonversi ke rupiah. Namun manfaat tersebut tidak selalu mampu mengimbangi tekanan yang dirasakan sektor-sektor lain.
Pelaku pasar kini menunggu respons dan langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global yang masih berlangsung. Stabilitas kurs dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kepercayaan pasar dan aktivitas ekonomi nasional.
Hingga Selasa siang, rupiah memang menunjukkan perbaikan tipis dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Namun dengan dolar AS yang masih bertahan di kisaran Rp18.167 per dolar AS, tekanan terhadap mata uang nasional dinilai belum sepenuhnya mereda.















