Ia menilai hadirnya tol yang melipir pinggiran Nagari Pariangan diyakini mampu melahirkan poros ekonomi baru di Sumatera Barat serta memecah konsentrasi wisatawan.
“Selama ini Bukittinggi diposisikan sebagai magnet tunggal hingga mengalami kejenuhan dan kemacetan akut. Tol di Pariangan ini akan membuka alternatif destinasi wisata baru berkelas dunia,” paparnya.
Secara kalkulasi teknis dan ekonomi, pengerjaan pemotongan bukit di kawasan perimeter tersebut juga menyimpan potensi sumber daya, yakni material batu dan agregat yang dapat dimanfaatkan untuk mendanai pembangunan infrastruktur.
“Wacana jalur alternatif menembus kawasan Batipuh hingga Sicincin sudah digagas sejak tahun 2006. Bahkan secara historis, pihak kolonial Belanda dahulu memilih menghindari rute Batipuh untuk menghindari pajak dari penguasa lokal,” katanya.
Ia menegaskan bahwa keberadaan jalan tol harus dikembalikan pada fungsi utamanya sebagai urat nadi distribusi logistik daerah.
“Fungsi utama jalan tol adalah memperlancar distribusi barang dan komoditas pertanian. Efisiensi waktu pengiriman dari daerah produsen ke pasar tujuan bisa dipangkas dari 8 jam menjadi 3 jam saja,” terangnya.
Terkait respons masyarakat lokal di kawasan Pariangan, Harison menyebutkan bahwa berdasarkan penelusuran dengan para tokoh adat, warga pada dasarnya bersikap terbuka. Kendati demikian, ia tidak merinci kapan penelusuran dilakukan dan siapa yang melakukannya.
“Hasil wawancara dengan tokoh-tokoh pengampu adat menunjukkan masyarakat dapat menerima pembangunan tol dan ganti untung, asalkan konsep akses jalan dirancang strategis untuk menghidupkan pasar lokal,” katanya.


















