Melihat kebuntuan tersebut, Harison mengingatkan bahwa memaksakan pendekatan instruktif dari atas ke bawah (top-down) untuk menembus kawasan Agam yang menolak merupakan rencana yang kurang realistis untuk dipaksakan hari ini.
“Karakter masyarakat Agam dikenal memiliki kemandirian berpikir dan keteguhan sikap yang sangat kuat. Memaksakan jalur lurus menembus permukiman dan sawah subur di sana hanya akan memperpanjang konflik sosial,” ujarnya.
Ia menyarankan pemerintah untuk mengalihkan rute proyek tersebut dengan membelokkan trasenya ke perimeter luar Tanah Datar di pinggiran Nagari Pariangan.
“Pilihan paling bijak dan logis adalah mengalihkan rute proyek ini. Bawalah jalan tol ini melipir ke pinggiran Nagari Pariangan di Tanah Datar agar tidak merusak tatanan permukiman warga,” jelasnya.
Ia melanjutkan, pengalihan rute ke kawasan pinggiran Nagari Pariangan yang dikenal secara internasional sebagai salah satu desa terindah di dunia dinilai sebagai terobosan cerdas secara teknis sekaligus luar biasa secara sosial.
“Pariangan adalah Nagari Tuo yang menjadi asal-mula peradaban Minangkabau. Mengarahkan tol ke kawasan ini akan mengubah fungsi infrastruktur dari sekadar jalan beton kaku menjadi koridor budaya yang bernilai tinggi,” ujarnya.
Ia melanjutkan, jalur perimeter ini juga diproyeksikan bakal menyuguhkan panorama visual yang menakjubkan bagi para pengguna jalan yang melintas di koridor tersebut.
“Pelintas akan disuguhkan pemandangan sawah berjenjang dan birunya Danau Singkarak. Jika dibangun rest area berbasis budaya di Pariangan, ini akan menjadi beranda budaya yang menghidupkan ekonomi anak kemenakan,” ungkapnya.


















