Ia menyebut, langkah pengalihan rute ke pinggiran Pariangan diyakini mampu menyelesaikan tiga permasalahan besar sekaligus dalam pengerjaan proyek strategis nasional. Pertama, meminimalkan konflik agraria, menjaga lumbung pangan di Agam, serta menjadi mitigasi bencana atas kerentanan jalur logistik utama di Lembah Anai.
Ia melanjutkan, menyelaraskan koordinat rute demi menghormati keputusan adat masyarakat bukanlah sebuah bentuk kegagalan negara dalam membangun infrastruktur.
“Menyesuaikan rute demi menghormati kedaulatan nagari adalah bentuk tertinggi dari kearifan tata kelola. Pembangunan modern harus tahu cara membujuk dengan kelembutan budaya,” imbuhnya.


















